Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi "lompat Batu" Di Nias, Rasakan
Selama 20 tahun menjadi Presiden RI, Soekarno hanya sekali menginjakkan kakinya di Pulau Nias, yakni pada tahun 1947. Sesudahnya, Soekarno tak pernah lagi melirik pulau terpencil di bagian barat Sumatera itu. Bagi Soekarno, Nias adalah sebuah pulau mati, pulau miskin yang dibiarkan asyik mabuk tuak tuo nifaro dan memelihara utang turun-temurun dengan uang jujuran perkawinan mematikan yang disebut ‘bowo’ itu.
Soekarno membiarkan orang Nias seperti katak di bawah tempurung, asyik dan puas dengan makanan khasnya ni’owuru (babi yang diasinkan), menjadikan rokok sebagai sebuah sumange (penghormatan) saat bertemu di jalan, di rumah, di pesta atau di mana saja. Jadilah pemuda Nias lebih baik tidak makan beras dari pada tidak merokok. Hal yang sama dengan Soeharto yang memerintah selama 32 tahun. Soeharto tak pernah mau datang walau hanya sekedar ‘membuang kentut’ di Nias. Soeharto hanya mabuk kepayang sambil mengumbar senyum saat ia mendengar orang-orang Nias cinta mati kepada Golkarnya selama puluhan tahun. Namun itu tidak cukup meluluhkan hati sang ‘The Smilling face of President’. Ia malas mendengar cerita kemiskinan orang Nias yang hanya makan nasi, sekali seminggu. Sementara The Smilling face of President, puas mandi sup asparagus dengan kuah melimpah ikan salmon di istananya, jalan Cendana.
Secara geografis, letak Pulau Nias yang terpencil di wilayah barat Indonesia, tak diperhitungkan secara ekonomi maupun politis. Pulau Nias bukanlah terletak di jalur perdagangan, jalur hilir-mudik manusia. Pulau itu seolah terasing dan teralienasi dari masyarakat luar. Masyarakat Nias yang sebagian besar penduduknya sebagai petani palawija, padi, karet dan nelayan, terus menjerit ketika harga komodoti karet sejak empat tahun belakangan ini hanya berkisar Rp. 4.000 sampai Rp. 5.000 per kg. Itu tidak sebanding dengan pengeluaran masyarakat Nias yang terus mengimpor beras dari daerah lain.