Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Mengamuk, "all Out" Hancurkan Narkoba,
Jokowi sadar betul efek dahsyat perang candu (opium war) Inggris-China yang terjadi 175 tahun lalu. Lewat taktik penyusupan Narkoba, Inggris berhasil merusak generasi muda bangsa China. Hingga ratusan tahun kemudian bangsa China hidup dalam kebodohan dan kemelaratan hebat sementara Inggris menikmati kemakmuran tiada tara. Tanpa hambatan berarti, Inggris berhasil menundukkan China untuk menguasai sumber-sumber kekayaan alamnya.
Indonesia yang mempunyai kekayaan alam melimpah ruah, sedang dihancurkan oleh bangsa lain lewat Narkoba. Bibit Narkoba diselundupkan masuk secara canggih dengan beragam cara. Mulai lewat penyelundupan jalan tikus hingga menyuap para aparat. Bisa jadi lewat produk-produk yang sedang kita konsumsi, kadar-kadar Narkoba sudah masuk ke dalam tubuh kita dalam ukuran kecil. Belanda menggunakan pengaruh opium untuk menaklukkan raja-raja Karo di Karo Jahe (Karo Hilir). Foto ini adalah salah seorang raja Karo yang sebagaian dari wilayahnya (Lau Cih) saat ini telah menjadi bagian Kota Medan. Foto: KARO SIADI .[/caption]
Buwas, panggilan Budi Waseso, menggandeng TNI untuk menyerbu barak-barak TNI dan polisi. Hasilnya dalam waktu tiga bulan pertama menjabat Kepala BNN, Buwas sudah menangkap 1.523 bandar dan pengedar Narkoba. Selanjutnya gebrakan Buwas semakin menderu. Ia berencana menyerbu lapas yang ditenggarai sebagai basis-basis peredaran Narkoba. Buwas pun terus melontarkan ide gila untuk membuat penjara khusus bagi napi narkoba dengan dijaga para buaya buas. Ia membentuk pasukan anjing pelacak K-9 yang bisa ditempatkan di tempat hiburan malam. Anak-anak Karo di Karo Hilir melakukan aksi hunjuk rasa ke Polsek Namorambe (Delsierdang) atas maraknya narkoba dn judi di kampung mereka (Namorambe) . Baca beritanya di SINI .[/caption] Amukan hebat Jokowi untuk melancarkan perang terhadap Narkoba, dapat diterjemahkan dengan sangat baik oleh Kepala BNN Budi Waseso. Jokowi jelas sudah muntah-muntah bagaimana seorang Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar selain terlibat korupsi, ia juga terlibat menjadi pencandu Narkoba. Bagaimana mungkin seorang ketua MK bisa dalam kondisi puyeng akibat mengkonsumsi Narkoba bisa memutuskan perkara Pilkada?