Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Pemberani (lanjutkan Proyek Kereta Api
Bila dilihat argumen pihak yang kontra atas proyek kereta api itu, maka benar masuk akal dan bahkan sangat merasuki akal. Selain biayanya yang mencapai 70 triliun Rupiah lebih, dampak lingkungan yang menganga, potensi gempa maut menakutkan di sepanjang jalur proyek, juga adanya utang investasi yang menggunung di depan mata. Utang itu kelak akan membebani anak cucu dan cicit kalau gagal karena BUMN-BUMN kita adalah jaminannya. Itulah sebabnya nyali pihak yang kontra sudah sangat menciut karena bayangan kegagalan silih berganti di kepala mereka. Apa jadinya jika proyek 70 triliun itu gagal? Itu benar-benar sebuah kiamat dan tsunami ekonomi.
Jika banyak pihak yang ketakutan atas proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung itu, Jokowi tidaklah demikian. Logika Jokowi bukanlah demikian. Jokowi jelas bukan penakut dan pengecut. Dia adalah sosok pemberani yang akrab dengan resiko tinggi, seorang pemimpin yang berani membuat terobosan dan seorang petarung dengan taruhan diri, nyawa dan reputasinya. Dalam membuat terobosan, Jokowi sangat mengandalkan naluri, insting dan daya nalar otaknya. Ia menyibak masa depan dengan kalkulasi tingkat tinggi. Ia bukanlah pemimpin dengan modal hasrat dan nyali besar saja. Ia adalah tipe pemimpin yang selalu melompat jauh ke depan penuh perhitungan. Dan itulah jiwa seorang pemimpin sesungguhnya.
Jika Soekarno takut karena tidak ada modal, maka proyek Monas, stadion Senayan Jakarta dan proyek lain pembangunan militer hebat tahun 1962, sampai sekarang mungkin tidak ada. Tetapi Soekarno dengan segala resiko berani melakukannya, dan ia berhasil mewujudkannya. Itulah yang ditiru Jokowi. Seorang pemimpin harus berani ambil resiko. Meniru pendahulunya Soekarno, sepak terjang Jokowi di percaturan politik di Indonesia, juga terlihat sangat akrab dengan resiko. Lihatlah keputusannya saat menjadikan mobil Esemka menjadi mobil dinasnya saat menjadi wali kota Solo. Hanya ada dua kemungkinan saat itu, dia diolok-olok, diejek, dihina. Tetapi Jokowi berani mengamil resiko. Terbukti justru mobil Esemka itulah yang membuatnya terkenal. Lalu ia ambil resiko selanjutnya meninggalkan Solo untuk bertarung melawan Fauzi Bowo merebut kursi Gubernur DKI Jakarta. Dan ia berhasil menjadi Gubernur. Resiko berikutnya, Jokowi ambil resiko berpasangan dengan Kalla yang tidak ada partai melawan keroyokan partai pendukung Prabowo merebut kursi RI-1. Dan ia menang.