Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Sibak "tikus" Blok Masela, Kepret
Jokowi paham betul siapa tikus-tikus di Blok Masela itu. Namun, mengusir tikus-tikus itu dengan cara biasa, tidaklah gampang. Jokowi butuh strategi. Bila tidak, sangat sulitlah mengusir tikus-tikus itu karena mereka sangat pintar berkamuflase. Jokowi kadang kala sulit mengendus bau tikus-tikus berpengalaman itu. Para tikus itu pun membuat dirinya sulit diidentifikasi karena mereka pakai dasi, pakai parfum, dan pakai bedak segala. Maka untuk mengusirnya, Jokowi pakai ilmu khusus, yakni ilmu pukul semak untuk menyibak keberadaan para tikus itu.
Lewat Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, Jokowi menyibak semak Blok Masela yang dihuni oleh tikus-tikus berpengalaman. Ketika Rizal mulai kehabisan energi, Jokowi memacunya dengan kepretan baru. Jokowi pun terus mengempret Rizal agar terus menyibak semak. Harapannya adalah agar tikus-tikus itu satu per satu keluar dan mulai muncul ke publik. Jokowi berharap lewat aksi memukul semak Rizal Ramli, para tikus itu keluar. Benar bahwa kepretan Rizal Ramli memicu pertengkaran di ruang publik. Ketika ia mengempret Wapres Jusuf Kalla, Sudirman Said, RJ. Lino, Rini Soemarno, publik bersorak sekaligus terusik. Ada banyak pihak yang mendukung Rizal, namun ada banyak pihak yang mencibirnya sebagai tukang koak belaka. Bahkan ada pihak yang menginginkan agar Rizal di-reshuffle dari kabinet. Tetapi benarkah demikian? Di kabinet, di istana dan di luar istana yang terkotomi faksi-faksi yang saling berebutan pengaruh, Jokowi butuh seseorang yang berani untuk bersuara lantang. Tujuannya adalah agar kebijakan yang menyangkut uang negara, masa depan bangsa, benar-benar dapat diputuskan dengan benar. Masih ingat kasus Freeport? Percaya atau tidak kasus itu dimulai dari kepretan Rizal Ramli. Mungkin kalau tidak ada Rizal Ramli, publik tidak pernah mengetahui permainan para tikus di Freeport yang sebenarnya. Juga bisa jadi perpanjangan kontrak karya Freeport itu sudah dilakukan.
Ketika media mulai menelusuri hal-hal yang terkait dengan Blok Masela, ada hal-hal yang mulai terkuak. Seperti diberitakan di media (baca di SINI ) lembaga riset yang menganjurkan pengembangan Blok Masela agar dilakukan di laut (off shore ) adalah Tridaya Advisory. Tridaya ini adalah milik Erry Riyana Hardjapemekas. Komisaris utamanya adalah Kuntoro Mangkusubroto. Dulunya Kuntoro adalah Direktur Utama PLN dan Sudirman Said adalah staf pribadinya. Maka jelas ada konflik kepentingan di sana.