Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Taruhan Resiko, Fadli Zon Menjerit,
Kali ini musuh hebat Jokowi bukan KMP, bukan DPR, bukan partai, bukan Mega, Kalla, Surya Paloh, Setya Novanto. Juga bukan teroris dan bukan pula para jenderal yang sedang menyusun kudeta. Musuh hebat Jokowi adalah dirinya sendiri. Jokowi telah bernazar pada dirinya bahwa paling lambat 2019, Indonesia sudah harus selesai membangun infrastrukturnya. Jadi sekarang, Jokowi sedang menggenjot luar biasa pembangunan infrastruktur. Nah di sinilah pertarungan sengit itu sedang terjadi karena apa yang diskenariokan Jokowi tidak berjalan mulus. Jokowi bertarung dengan taruhan dirinya sendiri.
Pembangunan infrastruktur masif Jokowi yang dia rancang akhir tahun 2014, ternyata meleset pelaksanaannya di tahun 2015. Melemahnya perekonomian global, penurunan daya beli masyarakat dan jatuhnya harga komoditas, membuat perekonomian Indonesia terpuruk. Dari target penerimaan pajak sebesar Rp. 1.489,3 yang tercantum dalam APBN perubahan (APBN-P) 2015, ternyata realisasinya hanya Rp. 1.235,8 triliun atau meleset Rp. 253,5 triliun. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pun jatuh dari Rp. 390, 7 triliun pada tahun 2014, menjadi tinggal Rp. 252,4 triliun pada tahun 2015. Pemerintahan Jokowi harus menelan pil pahit. Jokowi hampir tidak mendapatkan manfaat dari uang pencabutan subsidi BBM dan listrik. Sebab, sumber dana yang dulu dipakai untuk subsidi dan sekarang dialihkan ke infrastruktur, yakni pajak dan PBNP anjilok dan tidak bisa diharapkan. Jadi jelas tahun 2015 adalah sebuah kegagalan Jokowi merealisasikan pembangunan infrastrukturnya sesuai dengan target. Kenyataan pahit itu tidak membuat Jokowi menyerah. Jokowi malah berambisi meneruskan pembangunan proyek infrastrukturnya. Justru dalam APBN 2016, anggaran infrastruktur dialokasikan Rp. 313, 5 triliun. Lalu dari mana dana diperoleh dari anggaran yang meleset atau kurang sekitar Rp. 300 triliun untuk tahun 2015 dan potensi kekurangan dana Rp. 300 triliun untuk tahun 2016? Ada tiga cara, yakni: program pengampunan pajak, pemotongan anggaran dan penambahan utang.
Nah, di sini sebenarnya kritik SBY bisa dipahami. SBY memberikan alarm kepada Jokowi agar tidak menghamburkan uang negara yang diperoleh dari utang untuk proyek infrastrukturnya. SBY ingin agar jangan memaksakan diri membangun infrastruktur dengan dana yang terbatas. Karena salah-salah, negara bisa ambruk. Namun Jokowi terlalu sensitif, ia membalas sindirian SBY itu dengan blusukan di Hambalang.
Jeritan Fadli Zon juga dialami oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di zaman SBY, PKS yang berada di dalam lingkaran pemerintahan dengan gampang memperoleh dana, baik dari kadernya yang masuk dari pemerintahan, duta besar, atau komisaris BUMN atau jabatan penting lainnya. Belum lagi dana yang diperoleh dari sebuah Kementerian (ingat korupsi) sapi Lufthi Hasan Ishaq yang bisa membuat pundi-pundi PKS tebal. Tetapi sekarang dengan situasi PKS yang bertindak sebagai partai oposisi, plus penutupan seluruh keran korupsi oleh Jokowi, lalu seluruh kepala daerahnya dimatai-matai KPK, maka praktis dana untuk PKS sangat minim dan bisa jadi ke depan partai ini kehabisan dan untuk sekedar bertahan. Sementara itu kebijakan PKS untuk menentang terus pemerintahan Jokowi sudah tidak memberi manfaat apapun. Malah justru partai ini semakin rusak di mata publik. Hal itu disebabkan oleh sepak terjang Fahri Hamzah yang hanya omong besar di DPR dan sibuk membela koleganya Setya Novanto. Maka, untuk mengatasi situasi itu, jalan satu-satunya bagi PKS untuk menyelamatkan partai adalah sedapat mungkin bergabung dengan pemerintahan Jokowi. Jika berhasil bergabung dengan pemerintahan Jokowi, maka PKS bisa memperoleh lebih banyak manfaat ketimbang oposisi. Namun, ada satu batu sandungan bagi PKS yang membuat hubungan PKS dengan Presiden Jokowi tidak bisa mesra. Batu sandungan itu adalah kader PKS Fahri Hamzah yang sangat getol menghina Jokowi. Untuk menghilangkan batu penghalang itu maka jalan satu-satunya adalah memecat Fahri Hamzah sebagai kader PKS. Jika PKS berhasil mendepak Fahri Hamzah dari PKS, khususnya dari kursi Wakil Ketua DPR, maka PKS akan memulai hubungan baru dengan Jokowi. Isu yang beredar mengatakan bahwa surat pemecatan Fahri Hamzah sudah dikeluarkan oleh para petinggi PKS.