Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Tunda Lebaran Kuda
Cikeas, asal penggagas Lebaran Kuda, akan bersorak kegirangan. Pihak Cikeas kemudian akan meluncurkan beragam produk lebaran kuda seperti Gubernur Lebaran Kuda, Ormas Lebaran Kuda, Koalisi Lebaran Kuda di DPR dan Presiden Lebaran Kuda RI. Mantap. Pertanyaannya adalah apakah Lebaran Kuda yang sampai sekarang tak seorangpun tahu hari dan tanggalnya, bisa dihadirkan pada Demo 2 Desember itu?
Untuk menjawabnya, mari kita telaah situasi politik kekinian dengan hati riang, damai dan bahagia selalu terlebih dahulu.
Hirup-pikuk politik di Tanah Air akhir-akhir ini harus diakui semakin memanas. Dua kubu yang saling berseteru yakni kubu istana dan Cikeas terus adu taktik dan strategi. Bisa dipastikan bahwa Demo 2 Desember 2016 akan menjadi pembuktian kedua kubu tentang siapa yang paling cerdas, cerdik dan selanjutnya ceria. Rakyat banyak yang posisinya silent majority , hanya bisa bersikap wait and see sekaligus was-was.
Saat ini semua mata melirik istana. Apa taktik yang sedang dimainkan pihak istana untuk menangkis serangan dari Cikeas?
Langkah Presiden Jokowi yang merangkul berbagai pihak sebelumnya cukup ampuh. Jokowi nampaknya semakin percaya diri dan memutuskan tidak bertemu dengan SBY dan FPI untuk sementara. Ia bahkan terlihat akan berdiri tegak di istana sambil memegang tongkat komando. Sebagai Panglima Tertinggi ABRI, Jokowi siap kapanpun mengeluarkan perintah untuk mengamankan situasi.
Seperti yang dia beberkan di VIVA.co.id , SBY mengungkap skenario penjatuhan Jokowi. Menurut SBY, ada 2 pihak yang mau melengserkan Jokowi. Pertama, dari luar kekuasan dan yang ke dua dari lingkar kekuasaan Jokowi sendiri. Amat mudah menebak pihak luar yang ingin mendongkel Jokowi. Namanya tak perlu disebutkan satu per satu. Publik paham siapa-siapa mereka itu. Namun yang menarik adalah dugaan SBY tentang adanya pihak dari kalangan Jokowi sendiri yang ingin merebut kekuasaan. Siapakah mereka itu? Menurut SBY, pihak dalam itu adalah pembantu-pembantunya. Artinya sangat jelas. Semua menteri, Kapolri, Panglima TNI, bisa dituduh sebagai pihak yang ingin mendapatkan kekuasaan. Ini adalah bola panas SBY. Sepintas lalu, publik bisa mempercayai dugaan SBY itu. Apalagi menjelang demo 4 November lalu, SBY pernah bertemu Jusuf Kalla dan Wiranto. Dugaan SBY itu semakin menguat bila publik percaya begitu saja informasi hoax yang mengatakan bahwa Jokowi berencana mengganti Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Namun pergantian Panglima TNI dibantah sendiri oleh Jokowi. Nah, pertanyaannya adalah benarkah dugaan SBY itu? Publik bisa percaya, bisa tidak. Yang jelas, taktik SBY berhasil jika pertemuannya dengan JK dan Wiranto bertujuan untuk merusak kubu Jokowi dari dalam.