Kolom Asaaro Lahagu: Kalijodo Tutup, Moment Emas Ahok, Lawan
Soal penertiban Kalijodo, saya melihat pekerjaan itu cukup mudah bagi Ahok. Walaupun masih belum digusur dan direlokasi, saya perkirakan, pekerjaan itu bukanlah pekerjaan sulit baginya. Dengan taktik dan strategi cerdas yang dipakainya, Kalijodo akan mudah dia ditaklukkan. Itu berkat koordinasi strategis yang telah dia bangun selama ini dengan TNI-Polri.
Banyak pihak mencibir Ahok karena hanya berkoar-koar di Balai Kota mau menggusur Kalijodo tanpa mau turun langsung. Nah ini yang menarik. Mengapa Ahok tidak mengunjungi daerah tersebut? Publik hanya menduga bahwa barangkali Ahok sudah sangat enggan berdialog dengan warga di sana, hanya buang-buang waktu. Atmosfir Kalijodo mungkin sudah dirasuki aura porno. Jadi jelas Ahok malas ke sana dan bahkan merasa ‘jijik’ ke Kalijodo. Ahok berucap: “Ngapain ke sana, mau nonton kungfu?” Kungfu apa? Kungfu dengan PSK atau preman? Tetapi sebetulnya bukan alasan itu.
Ahok sekarang sudah mulai percaya kepada bawahannya. Hal berbeda jika ia memerintah tiga tahun lalu. Bawahannya lamban bergerak atau bahkan tidak bergeming mendengar perintah Ahok. Sekarang Ahok yakin bahwa bawahannya mampu melakukan instruksinya dengan cepat, benar dan tepat. Nah inilah sisi keberhasilan manajemen galak yang telah dibangun Ahok selama tiga tahun lalu. Sekarang Ahok cukup mengeluarkan perintah maka bawahannya langsung bergerak. Tak ada pertanyaan atau bantahan. Para bawahannya Ahok manggut-manggut saja, berlomba untuk kerja dan unjuk gigi hehe. Sementara Ahoknya cukup santai di Balai Kota sana. Ia cukup mengeluarkan perintah, membuat pernyataan, dan perang psikologis di media massa.
Itulah hasil kerja keras Ahok kepada bawahannya selama tiga tahun: Lelang jabatan, pecat, rotasi, kasih jabatan lagi, pecat, rotasi, ganti dan seterusnya pecat lagi. Data statisitik mengatakan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun, sudah ada 2.500 orang pejabat di DKI dipecat Ahok. Itu pasti angka yang mencengangkan. Hasilnya sekarang, mental pegawai DKI berubah walaupun tidak sepenuhnya namun mental rajanya sudah berkurang hingga 60 persen. Buktinya? Menanggapi perintah Ahok terkait penertiban Kalijodo, wali kota Jakarta Utara, Rustam Effendi, kebakaran jenggot, semangat 45, langsung bergerak menerjang Kalijodo. Minggu , Rustam Effendi bersama ratusan Satpol PP, personel TNI dan Polres Jakarta Utara, menyerbu Kalijodo dengan senjata lengkap. Ahok sendiri tidak ikut. Ia hanya memantau di rumahnya atau di mana saja. Begitu kompaknya walikota dengan TNI, Polri dan Satpol PP. Koordinasi mereka pun berjalan baik dan berhasil membuat preman Kalijodo tidak berkutik.
Jadi, tahun 2016 adalah tahunnya Ahok. Terkait penertiban Kalijodo, moment emas Ahok sedang datang. Penertiban Kalijodo jelas membuat citranya semakin mentereng. Kaum agamis, anti prostitusi akan setuju dengan Ahok yang memberantas prostitusi di Jakarta. Jelas Kalijodo punya nilai politik. Ahok sebelumnya mungkin sedang menunggu moment yang tepat untuk menggusur Kalijodo. Moment itu datang ketika ada pemuda yang kecelakaan mobil, dan beralasan akibat mabuk dari Kalijodo. Ahok pun langsung bertindak dengan taktik yang cerdas. Ahok gunakan Kalijodo untuk membuat dirinya semakin tenar. Para lawan politiknya pun tak berkutik alis mati kutu. Mereka tidak berani membela warga Kalijodo. Karena jika berani membela, hal itu sama saja bunuh diri.