Kolom Asaaro Lahagu: Ketika Mobil Fortuner Tidak Lagi Fortune
Saya tertarik mengomentari kecelakan itu karena Jl. Daan Mogot, tempat TKP adalah jalan raya yang hampir saya lalui setiap hari. Di Jalan ini sering terjadi kecelakaan (teman saya pernah kecelakaan dengan tangan patah). Selain kontur jalannya bergelombang karena ada bagian jalan yang telah dicor sementara lainnya belum, adanya U-Turn yang sulit serta banyaknya pengemudi motor yang kurang berhati-hati di jalan ini, turut membuat angka kecelakaan cukup tinggi di jalan ini. Pagi sampai sore hari jalan ini terkenal dengan kemacetannya. Sementara tengah malam, jalan ini sepi menyeramkan.
Penetapan Riki Agung Prasetya (seorang mahasiswa) sebagai tersangka oleh polisi atas kejadian itu sangatlah tepat dengan beberapa alasan. Pertama, Riki terbukti telah menegak minuman keras sebanyak 10 gelas sebelum kejadian itu. Kedua, dalam keadaan ngantuk karena habis dugem di Kalijodo, Riki masih memberanikan diri mengemudi. Ketiga, kecepatan kendaraan saat Riki mengemudi, mencapai 90-100 km. Keempat, Riki terobsesi kemampuan mobil Fortuner milik orang tuanya sebagai mobil kuat setara dengan Metromini. Poin keempat inilah yang yang menarik perhatian saya untuk diulas lebih lanjut. Nama ‘Fortuner’ diambil dari kata ‘fortune’ yang artinya untung, nasib baik. Jadi kata ‘Fortuner’ menjadi kata benda milik yang artinya ‘pembawa keberuntungan, orang yang benasib untung, bernasib baik'. Orang yang mempunyai mobil Fortuner (harganya berkisar Rp. 500 juta, sekelas dengan Pajero dan CRV) berarti orang yang beruntung dalam kehidupan ekonominya. Para pemilik Fortuner adalah orang sangat beruntung karena mampu membeli mobil semahal itu (tergolong kelas atas). Maka mengendarai mobil Fortuner mendongkrak gengsi para pemakainya. Ia hanya kalah gengsi dengan para pemilik Toyota Harrier, Lexus, atau Land Cruiser, Mercy, BMW, Lamborgini dan Ferari. Tetapi jika dibandingkan dengan Agya, Ayla, Avanza, Brio, Karimun, apalagi dengan motor sekelas Mio, Fortuner jelas bagaikan gajah vs kancil.