Kolom Asaaro Lahagu: Pasca Demo, Lawan Jadi
Pertama, demo itu berhasil membuat nama FPI sekaligus Habib Rizieg melambung. Ia berhasil menyelenggarakan demo akbar ratusan ribu orang dengan dukungan dana lebih Rp. 100 miliar, menghimpun lebih banyak umat Islam militan dan memberi pesan kepada dunia bahwa FPI masih hidup di Bumi Indonesia. Ke depan, reputasi Habib Rizieg akan menjadi jaminan untuk menggerakkan demo selanjutnya.
Ke dua , FPI berhasil mengubah skenarionya dari demo memaksakan kehendak, berpotensi menimbulkan kerusuhan massal (anjuran menulis surat wasiat), menjadi demo damai, tak anarkis, dan melegakan semua pihak. Tentu saja perubahan skenario FPI itu disebabkan oleh manufer tak diprediksi Jokowi yang bertemu Prabowo, para pimpinan MUI, NU dan Muhammadiyah, pimpinan Pemred media dan tekanan sigap aparat penegak hukum.
Ke tiga, publik semakin yakin bahwa demo itu ditunggangi oleh beberapa partai yang mempunyai kepentingan besar di Pilkada DKI. Bantahan SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat bahwa ia sama sekali tidak terlibat di belakang demo itu, justru menguak tabir perannya yang sebenarnya.
Sebetulnya tidak ada yang salah ketika SBY mengeluarkan statement agar Ahok diproses sesuai hukum. Namun pernyataannya bahwa Ahok jangan sampai kebal hukum, tak bisa disentuh, jelas ia mencurigai Jokowi membela Ahok. Pernyataan selanjutnya bahwa akan ada demo sampai lebaran kuda jika Ahok tidak diproses alias tidak ditangkap, menunjukkan belang SBY yang sangat menginginkan Ahok tumbang sebelum berlaga.
Ke enam, dan ini poin yang amat penting, demo 4 November itu akhirnya bisa dikatakan gagal mencapai tujuannya. Awalnya skenario tujuan demo amat jelas, yakni (1) memancing 500 ribu hingga jutaan umat Islam turun ke jalan-jalan untuk bersatu dan meneriakkan yel-yel tangkap Ahok, (2) jika hal pertama tercapai, maka pendemo akan memaksa Jokowi dan Kapolri menersangkakan Ahok pada hari Jumat 4 November 2016. Jika tidak, maka pendemo akan menginap di istana, menguasai istana dan akan melakukan kerusuhan massal, (3) Jika tujuan pertama dan ke dua tercapai maka tujuan ke tiga adalah menjadi tujuan SBY sendiri. Ia akan tertawa puas penuh kemenangan di Cikeas dan ke depannya akan menyaksikan puteranya Agus melenggang mulus menuju DKI-1 tanpa Ahok.