Kolom Asaaro Lahagu: Polisi Butuh Polisi Hebat Untuk Membongkar
Hal yang amat jelas kepada publik sekarang adalah Kombes Krishna Murti dan Jessica Wong telah menjelma bak selebritis kawakan. Keduanya terus diburu media terkait kasus itu. Setiap kata dan gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh media. Maka tak heran, Kombes Krishna Murti lebih tenar dari Kapolda Metro Jaya dan bahkan Kapolri sekalipun. Hal yang sama dengan Jessica. Kemampuannya dalam menjawab pertanyaan wartawan, lolos dari lie detector dan sikapnya yang tenang, membuatnya semakin tenar menyaingi Agnes Monica.
Mengapa polisi begitu lambat menetapkan tersangka pembunuh Mirna dan terkesan tidak jelas? Padahal tempat kejadian amat jelas, saksi amat terang, penyebab kematian Mirna sangat gamblang. Di sini kita bertanya dan bertanya dan mulai meragukan kemampuan para polisi kita. Dalam mengungkap kasus Mirna, jelas amat dibutuhkan polisi-polisi spesialis yang sangat terlatih, sehingga mampu mengumpulkan bukti kuat yang menegaskan siapa pelakunya.
Selama ini polisi kita terbiasa dengan kasus yang sederhana dan tidak begitu rumit. Dalam beberapa kejadian dalam upaya mereka membongkar kasus, polisi kita memakai cara-cara siksaan. Calon saksi yang diduga sebagai pelaku disiksa dengan berbagai cara terlebih dahulu agar mengaku. Karena sakit dan tak bisa bisa menahan siksaan, maka calon tersangka terpaksa mengaku walaupun kadang dia tidak berbuat seperti yang dituduhkan. Maka tak heran, beberapa kasus kriminal terjadi salah tangkap oleh polisi.
Seorang polisi hebat di bidang reserse, juga harus mempunyai jiwa haus tentang hal-hal yang berbau detektif. Ia harus mampu mengamati secara tajam sebuah objek di hadapannya. Kemampuan pengamatan dan analisis tinggi terhadap sebuah objek merupakan syarat utama bagi seorang menjadi penyelidik dan penyidik polisi. Misalnya kepada sang penyelidik itu ditunjukkan sebuah BATU kemudian ditanyakan kepadanya apa pendapatnya tentang batu itu. Seorang polisi jenius akan menjawab sebagai berikut: Kata BATU terdiri dari empat huruf, dua konsonan yakni B, dan A, dan 2 vocal yakni A dan U. Konsonan B terdapat juga pada huruf awal nama orang seperti Baim, Badu, Blair dan sebagainya. Blair merupakan nama belakang perdana menteri Inggris yakni Tony Blair dari partai Buruh. Nama Buruh mulai sangat terkenal ketika terjadi revolusi Industri di Inggris, Perancis dan Eropa Barat lainnya. Barat identik dengan kemajuan peradaban manusia. Di Baratlah dicetuskan ide demokrasi yang melahirkan partai Demokrat ratusan tahun sesudahnya pimpinan SBY. SBY adalah Presiden Indonesia yang keenam dan memerintah selama sepuluh tahun. Selama pemerintahan SBY, mulai terkenal kata ‘citra’, pencitraan. Kata citra juga dipakai untuk pelembut kulit wanita dengan merk citra sehingga seorang wanita dapat memancarkan citra positif sama dengan polisi. Jika citra polisi baik, maka masyarakat pun percaya kepada polisi.