Kolom Asaaro Lahagu: Tangisan Ahok, Tangisan Kepada
Pertama, dari sudut pandang pendukung. Ahok menangis karena ia sudah tidak tahan tekanan demo, ia tidak kuat diserang habis-habisan. Ahok menangis karena ia ingat ibu angkatnya yang sudah tiada. Ahok menangis karena ia kembali mengingat kisah nyata kedua orangtua angkatnya yang muslim yang sangat sayang kepadanya. Ahok menangis karena kebaikannya terhadap kaum muslim dibalas dengan tuduhan menista agama.
Ke dua , dari sudut pandang lawan. Tangisan Ahok adalah tangisan air mata buaya, tangisan palsu untuk mendapatkan simpati. Tangisan Ahok adalah tangisan permintaan kepada hakim agar berbelas kasihan kepadanya. Tangisan Ahok adalah hukum karma sebagai balasan saat orang yang digusurnya menangis, orang yang dipecatnya menangis, orang yang dimarahinya menangis. Tangisan Ahok adalah tangisan kesadaran karena ia telah menista agama. Tangisan Ahok adalah tangisan kehilangan jabatan sebagai gubernur dan kemungkinan ia dipenjara.
Arti tangisan Ahok dari kedua sudut pandang di atas sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Orang bebas menafsirkan arti tangisan Ahok itu. Pun ketika Ahok menangis, ada banyak yang ikut menangis, itu juga hal normal. Atau ketika Ahok menangis, ada pihak yang muntah seraya mengejek bahwa itu air mata buaya. Monggo, beda tafsiran adalah hal yang lumrah. Akan tetapi sadarkah kita bahwa tangisan Ahok bukan hanya sekedar tangisan dari sudut pandang di atas? Ahok menangis karena ia menangisi nalar kita. Ahok menangisi pemahaman agama kita yang jauh tertinggal dari orang Barat. Ketika Barat sudah sibuk memperdalam rasa kemanusiaan, hak azasi manusia, persamaan derajat dan persamaan hak politik (seorang muslim bisa menjadi Walikota London), justru kita sibuk membagi kita dalam kotak kafir dan non kafir, masuk surga dan neraka. Padahal kepastian masuk surga itu adalah kepastian subyektif, karena tidak seorang pun manusia pernah ke sana dan kembali ke bumi.