Kolom Bastanta P. Sembiring: Down Syndrom Di
Dari pengalaman saya melakukan pemotretan, dari ratusan orang yang sudah saya foto ada beberapa tipe manusia dan dengan masing-masing kadar yang bervariasi. Bahkan lebih liar lagi saya berani berpendapat, dari foto kita bisa menganalisa sifat manusia, bahkan berdasarkan etnis tertentu ada sifat-sifat yang muncul saat akan dipotret (mungkin akan kita bahas di kesempatan lain). Namun, ada beberapa anak yang cukup menarik perhatian saya dan buat saya cukup kewalahan. Ada anak yang dari tampilan fisiknya saja sudah bisa kita ketahui dia mengidap Down Syndrom, seperti pertumbuhan fisik yang berbeda dengan anak seusianya (cenderung melamban), otot-otot yang kaku. Misalkan, saat kita minta agar tangannya diturunkan atau menutup mulut, sepertinya merupakan hal yang sangat sulit baginya untuk melakukannya. Bukan melawan seperti anak-anak lainnya, tetapi seakan otot-ototnya menolak; air liur yang tak henti menetes, keringat berlebih, kulit halus namun kering, suara tidak jelas, dan gumpalan pada bagian-bagian tubuh tertentu, dlsb
Sebenarnya, ucapan saya itu hanya untuk mengingatkan mereka. Namun, tak jarang para orangtua ini memang tidak sadar kondisi anak mereka atau tidak peduli. Tak jarang juga mengeluarkan umpatan-umpatan kasar dan kekerasan fisik kepada si anak agar menurut. Tetap, si anak tidak menurut, karena kontrol otaknya tidak bekerja atau merespon sebagaimana mestinya. Kalau sudah sampai pada umpatan kasar atau kekerasan fisik, saya selalu menepis dengan berkata: "Sekolah adalah tempat belajar pak/ ibu, bukan penampungan anak. Guru-guru itu tugasnya mendidik banyak anak bukan hanya anak kam . Anak kam ini berkebutuhan khusus, spesial, beda dengan kebanyakan anak lainnya.