Kolom Darwono Tuan Guru: Ahok Dan Bidikan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Darwono Tuan Guru: Ahok Dan Bidikan

Berita terkini Kolom ·
Kolom Darwono Tuan Guru: Ahok Dan Bidikan
//

Pilihan Ahok untuk maju sebagai Cagub melalui Jalur Independen tentu sudah dipertimbangkan matang-matang. Meskipun Ahok menyatakan dirinya berada di ujung tanduk, namun kelihatannya pilihan itu sudah dipersiapkan sejak lama. Hal ini terlihat dari berbagai manuver yang dilakukan Ahok terutama berbagai kegiatan yang bernilai “kampanye” terselubung yang melibatkan pemilih pemula terutama para pelajar SLTA Kelas 12 (dulu kelas 3) yang dipanggil ke Balai Kota DKI secara bergantian beberapa waktu lalu.

Penggarapan pemilih pemula ini dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya Teman Ahok. Jika dilihat dari profil pendirinya yang sekaligus dijadikan ujung tombak dalam berbagai kesempatan, rasanya tidak yakin Perkumpulan Teman Ahok itu murni digerakkan oleh mereka yang secara explisit ditampilkan dalam website Temanahok dot Com. Hal ini nampak sekali dari jumlah dana yang hampir menyentuh angka satu millayar saat ini, karena pada bulan Juni 2015 yang lalu saja sudah melewati angka tujuh ratus juta rupiah (baca Kolom Darwono Tuan Guru: Teman Ahok, Siapa Mereka? ).

Strategi untuk merekrut pemilih pemula dengan ujung tombak Perkumpulan Teman Ahok nampak sekali dari bahasa ABG yang digunakan dalam kampanye prematur mereka. Ini tentu saja digunakan agar penggarapan pemilih pemula yang telah dilakukan di Balai Kota tidak sia-sia. Dengan kata lain, sebanarnya Ahok juga melakukan follow up atas acara-acara yang melibatkan pelajar tanpa sepengetahuan suku Dinas Pendidikan Kota se DKI Jakarta.

Meski dengan tajuk acara “Pemberantasan Korupsi”, bisa dibilang bahwa simpulan dari para peserta adalah: “Perlu figur pengalaman dalam memberantas korupsi.”

Maka jangan salah pilih pemimpin. Meski tidak dieksplisitkan “pilihlah saya”, namun karena pembicara resminya tunggal khusus dengan Ahok, maka mau tidak mau, terjadi pembentukan opini, penyamaan persepsi bahwa figur seperti Ahok lah yang dibutuhkan.

Beberapa kali acara dialog khusus dengan Ahok dari berbagai sekolah sudah barang tentu menimbulkan gaung di kalangan pemilih pemula yang cenderung sebagai “floating mass”, dan kurang memahami idealisme dan perjuangan politik .

Penggunaan pendekatan “ngepop” adalah strategi yang akan terus digunakan oleh pihak Ahok, untuk meraih dukungan pemilih pemula dan pemilih muda yang kurang memahami prinsip-prinsip kepemimpinan. Oleh karenanya, sangat nampak sekali, upaya kampanye pencerabutan kepemimpinan dari nilai-nilai religius yang dilakukan melalui publikasi Teman Ahok. //

Selain Ahok membidik pemilih pemula yang cenderung pragmatis, dalam artian tidak mengkaitkan kepemimpinan dengan nilai-nilai religius, cara ini juga dilakukan bagi floating mass yang tidak memegang nilai-nilai religius, terutama kalangan sekuler yang memisahkan kehidupan politik dari nilai-nilai agamis juga nilai-nilai ideal bangsa yang berketuhanan yang maha Esa dan berbudaya. Apologis terhadap sikap-sikap Ahok adalah indikasinya, hal ini juga banyak digunakan dalam publikasi yang digunakan oleh pendukung Ahok.

Dalam konteks budaya bangsa, apologis terhadap cara-cara Ahok dalam praktek kepemimpinannya yang cenderung mengabaikan “unggah-ungguh” , tidak sopan dan kasar (bukan tegas) di tengah bangsa Indonesia khususnya Jakarta yang santun adalah sangat berbahaya sebab lunturnya budaya dan karakter pada suatu masyarakat akan mengancam existensi masyarakat itu sendiri. Kita memang butuh pemimpin tegas, tetapi bukan kasar. Kita butuh pemimpin elegan, bukan arogan.

Apa yang ada pada Ahok adalah typical Ahok personal bukan terkait dengan alasan – alasan primordial SARA. Karena kita bisa dengan mudah menemukan katakanlah orang China yang tetap santun demikian juga alasan daerah, Bangka Belitung, di sana juga sangat menjunjung tinggi sopan santun dan kehalusan budi. Sewaktu pertama kali ke jakarta, dan kost di daerah Grogol bersama teman-teman etnis Tionghoa dari Bangka Belitung, mereka juga sangat memegang sopan santun dan etika. Dilihat dari agama, maka agama apapun mengajarkan tata moral (akhlak).

Secara pribadi, Ahok sangat tahu, dengan karakter dirinya yang seperti itu, tidak mungkin mengharap dukungan dari pemilih yang memegang nilai-nilai kepemimpinan Nusantara “ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun Karsa dan Tut wuri handayani ”, atau secara umum pemimpin adalah figur teladan dalam segala aspeknya, fikiran, ucapan dan tindakan bagi masyarakatnya. Oleh karenanya, Jalur Independen dengan strategi bidik dukungan pemilih pemula dan pemilih pragmatis adalah sebuah pilihan rasional namun gambling.

Dikatakan rasional karena memang realitas Ahok sepereti itu, dikatakan gambling karena pilihan itu mudah dipatahkan oleh kontra strategi lawan.

Jakarta memang kota megapolitan dengan berbagai budaya ngepopnya, namun masyarakat Jakarta juga sangat intelektual dan religius. Masyarakat intelektual tidak mungkin mudah diperdaya oleh pencitraan (image development) yang dilakukan. Di samping ada yang sudah dilakukan Ahok tetapi masarakat juga bisa melihat, pilihan-pilihan garapan yang Ahok lakukan.

Sebagai misal, dalam upaya mengatasi banjir, Ahok memang melakukan penataan masyarakat yang terpaksa menghuni daerah aliran sungai, namun di sisi lain, Ahok tidak melakukan penertiban bagi bangunan-bangunan mewah yang sebenarnya berdiri di daerah resapan, bahkan rumah Ahok besama keluarga berada di daerah seperti itu. Apalagi yang dilakukan Ahok saat ini sebenarnya hanya meneruskan apa yang Jokowi upayakan. Bedanya, Jokowi melakukan dengan santun dan pendekatan manusiawi.

Grey Area, wilayah abu-abu yang akan menjadi rebutan terutama pemilih pemula, pada kenyataannya sangat mungkin disedot oleh lawan tergantung penggarapan dengan isue-isue yang menarik. Kontra strategi bukan berarti dengan melakukan konfrontasi dengan apa yang dilakukan Ahok secara vis at vis apalagi dengan cara memojokkan dan menguya-uya Ahok, namun melalui program-program yang kreatif dan menarik yang lebih bisa menggarap rasio dan religio pemilih.

Hindari tindakan-tindakan profokatif yang menguya-uya Ahok, karena hal seperti itu justru akan menjadi bumerang, yang mungkin akan menumbuhkan simpati pemilih. Psikososial masyarakat kita memang mudah bersimpati pada mereka yang terkuya-kuya. Berbagai ajang pemilihan bisa menjadi bukti akan hal itu. //