Kolom Darwono Tuan Guru: Beratnya Memutuskan "tidak
Ada beberapa kemungkinan alasan yang Mendikbud sampaikan tidak sesuai dengan apa yang kami tulis sebelumnya. Pada tulisan itu kami mengungkapkan: "Penurunan nilai rerata itu tidak bisa serta merta disimpulkan sebagai pengaruh UNBK. Sudah barang tentu banyak faktor yang mempengaruhinya, muatan kurikulum, tingkat kesulitan soal, teknis pengerjaan soal UNBK dll. "Kebersihan" UNBK dalam makna UNBK terlepas dari kecurangan sangatlah perlu dipertanyakan, sebab faktanya beredar juga soal-soal download yang sama persis titik komanya dengan soal UNBK. Dalam tulisan itu kami sampaikan fakta tentang kebocoiran yang ada." Kembali pada masalah Ketidaklulusan, jika dilihat dari penurunan rerata yang mencapai level di bawah nilai minimal keluluasan, maka dapat dipahami banyak peserta didik SMA yang hasil nilai UN nya jauh di bawah 55. Namun sebagai sebagaimana berita yang beredar, tingkat kelulusan masih tetap sangat tinggi. Ini wajar saja karena sebagaimana penulis sampaikan pada tulisan di bawah judul "Lulus 100% Biasa, di Bawah 100 % Luar Biasa", bagaimanapun juga budaya di dunia pendidikan kita, di sekolah-sekolah pada umumnya, berlaku seolah-olah adalah sebuah aib, suatu hal yang mencoreng, jika ada peserta ujian dari sebuah sekolah yang tidak lulus. Budaya ini terlihat jelas pada upaya untuk "mendongkrak" berbagai faktor agar memenuhi kriteria kelulusan. Sebagai misal, zaman EBTANAS, sekolah, biasanya "mengutak-utik" komponen nilai P dan Q (Semester 5 dan 6) agar nilai minimal yang dicapai peserta didiknya bisa mencapai kriteria kelulusan (5,6). Bahkan n (indeks nilai NEM) pun, ketika hasil Ebtanas jeblok oleh Depdiknas diturunkan seminimal mungkin, agar semaksimal mungkin peserta ujian lulus.
Sepanjang 30 tahun menjadi pendidik, sekitar 4 kali ada dalam suasana memutuskan untuk "tidak meluluskan". Memang berat, memutuskan "tidak lulus" bagi siswa kita apa lagi bagi sekolah swasta dengan murid yang berasal darai kelas ekonomi bawah. Yang kurang memenuhi persyaratan hanya beberapa poin dari nilai ujian, biasanya ada simphatik yang mengemuka, namun kita bisa pasrah karena aturan menghendaki begitu. Lain halnya ketika kita harus memutuskan bukan karena masalah nilai ujian yang kurang, tetapi karena sikap dan dan perilaku siswa bersangkutan. Kita dibawa pada suasana dilematis, meluluskan apa tidak terkait dengan pertimbangan terutama nurani sebagai pendidik. Argumen yang harus kita kedepankan adalah dengan memutuskan itu kita meneguhkan sebagai pendidik atau bukan. Kita berada pada idealisme pendidik atau pragmatisme perasaan.