Kolom Darwono Tuan Guru: Guru, Kambing Hitam
Kita dapat pastikan, bahwa peran guru tidak lebih dari kambing hitam berbagai kegagalan Pendidikan Nasional. Sebagai guru yang banyak berinteraksi dengan temen-temen guru melalui berbagai media, saya bersyukur, bahwa guru-guru Indonesia yang saya pahami, memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasana sosial, dan kecerdasan emosional yang sangat tinggi, sehingga dijadikan kambing hitam pendidikan nasional untuk even apapun sahabat-sahabat guru Indonesia terus menjalani dedikasinya, mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan segala romantikanya. Sayangnya, kadang penulis melihat kritikan terhadap guru oleh para pengamat terlihat kurang cermat , dengan menggunakan generalisasi atau konklusi yang sangat invalid. Sebagai contoh, kritikan yang disampaikan oleh seorang pengamat yang mengatakan "gaji guru DKI sampai Rp. 18 juta, tetapi kualitasnya rendah dan menuirut data banyak yang tidak mengenal masalah komputer". Ini bukan saja sebuah generalisasi yang invalid, juga sebenarnya mengandung pelecehan terhadap guru DKI.
Di sekolah kami, yang berada di posisi menengah dengan SPP (Rp.750.000/ bulan), gaji rata-rata yang kami ketahui dari salah seorang pengelola adalah Rp. 1.500.000 (jauh di bea UMR), apalagi teman-teman yang mendidik di sekolah dengan SPP Rp. 250.000/ bulan. Jika dihitung proporsional maka akan jatuh pada angka rata-rata Rp. 500.000/ bulan. Ketika guru Biologi DKI berkumpul dalam rangka pelatihan, diskusi pendapatan guru DKI di sekolah swasta, ada guru yang mengajar full 1 minggu 40 Jam mengajar menerima gaji tiap bulan Rp. 900.000. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak guru DKI yang mencati tambahan dengan menjadi tutor di bimbel, ojek online, tukang sampah, jualan kuliner, menajdi penonton bayaran, extras, dll.