Kolom Darwono Tuan Guru: Hormon Perempuan Dominan, Pria Ini — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Darwono Tuan Guru: Hormon Perempuan Dominan, Pria Ini

Berita terkini Kesehatan ·
Kolom Darwono Tuan Guru: Hormon Perempuan Dominan, Pria Ini

Perubahan yang terasa pada saat masuk SMP.

"Saat itu saya merasa lebih nyaman jika kumpul dengan laki-laki. Kulit pun kok rasanya lebih halus. Nah, sejak saat itu baru merasakan ada apa ini," terang wanita pria asal Banyuwangi ini.

Sejak kepindahannya ke Jakarta baru ia melakukan pemeriksaan medis. Diketahui ternyata hormon pria dan wanita di dalam tubuhnya imbang bahkan dominan. Sehingga bukan karena faktor salah asuh, lingkungan, ataupun sulitnya mencari pekerjaan. Namun ia merasa lebih nyaman dengan dirinya sebagai perempuan meski berfisik laki-laki (Liputan 6).

Hormon (dari bahasa Yunani, όρμή: horman - "yang menggerakkan") adalah pembawa pesan kimiawi antar sel atau antar kelompok sel. Semua organisme multiselular, termasuk tumbuhan

Hormon di tubuh kita dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar tersebut tidak memiliki saluran khusus sehingga hormon yang dihasilkan langsung diedarkan oleh darah. Proses pengeluaran hormon dari kelenjarnya disebut inkresi. Meskipun jenis kelamin suatu organisme sudah dapat ditentukan pada saat fertilisasi, namun alat-alat reproduksi baru terbentuk setelah mencapai usia 2 bulan dari proses kehamilan. Proses pematangan fungsi alat-alat kelamin baru terjadi pada masa yang dikenal sebagai masa pubertas.

//

Masa pubertas, yaitu masa suatu gonad (kelenjar kelamin) mulai dapat menghasilkan sel-sel kelamin matang atau gamet, yang Anda kenal sebagai spermatozoa pada pria dan ovum pada wanita. Pria mengalami masa pubertas pada usia 14 – 16 tahun, sedangkan wanita mengalami masa pubertas lebih awal, yaitu pada usia 11 – 14 tahun.

Masa pubertas dicirikan oleh terlihatnya ciri-ciri kelamin sekunder yang mulai tampak. Ciri-ciri kelamin sekunder pada pria, yaitu terjadinya perubahan suara, tumbuhnya bidang dada, mulai tumbuhnya kumis, jenggot, jambang, atau rambut-rambut di sekitar alat kelamin, sedangkan pada wanita, kelamin sekunder dicirikan dengan suara yang melengking atau tinggi dan halus, terbentuknya payudara, pembesaran pinggul, dan juga tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin.

Pada pria tanda-tanda pubertas terlihat dengan keluarnya sperma untuk pertama kalinya, sedangkan pada wanita tanda-tanda pubertas ditandai dengan terjadinya menstruasi atau haid yang pertama.

Tanda-tanda pubertas tersebut ternyata sangat dipengaruhi oleh hormon-hormon kelamin tertentu. Hormon-hormon kelamin yang berperan terhadap perkembangan organ-organ kelamin, yaitu FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), testoteron, estrogen, progesteron, oksitosin, relaksin, dan laktogen (prolaktin). Masing-masing hormon tersebut memiliki pengaruh yang berbeda-beda, untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan lebih rinci. Ibu asuh Presiden AS Obama yang waria.[/caption] 1) FSH (Follicle Stimulating Hormone), yaitu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon FSH ini berfungsi dalam proses pembentukan dan pematangan spermatozoa yang dikenal sebagai spermatogenesis dan ovum yang dikenal sebagai oogenesis. Di samping itu, FSH juga merangsang produksi hormon testoseron pada pria dan estrogen pada wanita. 2) LH (Luteinizing Hormone). Hormon ini juga dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon ini dapat merangsang proses pembentukan badan kuning atau korpus luteum di dalam ovarium, setelah terjadi poses ovulasi (pelepasan sel telur).

3) Testoseron, yaitu hormon yang dihasilkan testis dan berperan dalam spermatogenesis dan penampakan ciri-ciri kelamin sekunder pada pria.

4) Estrogen. Hormon ini dihasilkan oleh folikel graaf di dalam ovarium. Hormon ini berperan alam oogenesis dan penampakan ciri-ciri kelamin sekunder pada wanita. Di samping itu, hormon ini juga berperan untuk merangsang produksi LH dan menghambat produksi FSH.

5) Progesteron. Hormon ini dihasilkan oleh badan kuning atau korpus luteum di dalam ovarium. Berperan dalam proses pembentukan lapisan endometrium pada dinding rahim untuk menerima ovum yang telah dibuahi. Pada saat terjadi kehamilan, progesteron bersama-sama dengan hormon estrogen menjaga agar endometrium tetap mengalami pertumbuhan, membentuk plasenta, menahan agar otot uterus tidak berkontraksi, dan merangsang kelenjar susu memproduksi ASI.

6) Oksitosin. Hormon ini dihasilkan oleh hipofisis. Peranannya, yaitu pada proses kelahiran, untuk merangsang kontraksi awal dari otot uterus.

7) Relaksin. Hormon ini dihasilkan oleh plasenta, berperan untuk merangsang relaksasi ligamen pelvis pada proses kelahiran.

8) Laktogen, dihasilkan oleh kelenjar hipofisis yang bersama-sama dengan progesteron merangsang pembentukan air susu.

Selama segala sesuatunya berjalan normal, maka lelaki akan tetap menjadi lelaki, dan wanita akan tetap menjadi sebagaimana layaknya wanita. namun demikian banyak hal yang bisa mempengaruhi kerja optimal hormon-hormon tersebut. Karena hormon adalam senyawa kimia, maka kerja optimalnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan kimiawi tubuh secara keseluruhan.

Adanya zat kimia tertentu, boleh jadi memperkuat (synergisme) atau memperlemah (antagonisme) dari hormnon-hormon alaminya, termasuk sentesisi hormon-hormon itu jaga tergantung bahan (nutrisi hormon) yang tersedia.

Sebagai misal uji coba ahli saraf Yi Rao dari Peking University dan National Institute of Biological Science di Beijing menunjukkan, serotonin ternyata juga mempengaruhi keputusan pria untuk ‘menggoda’ wanita atau pria. //

Rao dan tim melakukan uji melalui pengurangan neuron penghasil serotonin atau protein penting penghasil serotonin dalam otak. Tak seperti tikus jantan lain, tikus yang kekurangan serotonin tak memiliki hasrat seksual terhadap tikus betina. Sebaliknya, tikus itu malah tertarik pada tikus jantan serta lebih sering menyanyikan lagu cinta ultrasonik. Biasanya, tikus jantan menyanyikan lagu ini untuk menggoda tikus betina agar bisa melakukan seks.

Secara praktis, para waria (lelaki) mengkonsumsi pil KB (preparat Estrogen dan progresteron) dalam upaya meningkatkan sifat-sifat kewanitaan seperti tumbuhnya buah dada, ,membuat kulit mulus dan wajah cling dll. Menurut mereka, banyak waroia yang sukses mengubah penampilannya menjadi begitu mulus dll dengan cara itu.

Oleh karena itu, boleh jadi bukan salah asuh pada kasus di atas, namun bisa saja salah maintanain (salah makan) selama peproses pertumbuhan sehingga nutrisi yang tersedia justru mendukung kewanitaannya.

Biasanya, dalam masyarakat ada makanan-makanan tertentu yang "ditabukan" untuk wanita, dan ada yang ditabukan untuk lelaki. Orang menganggapnya ini sebuah mitos belaka, bagi penulis melihat itu sebagai "local wisdom", kearifan lokal dalam kuliner. Merujuk pada penelitian Yi Rao dari Peking University dan National Institute of Biological Science di atas, maka makanan yang banyak mengandung serotonin, sangat baik untuk lelaki, dan kurang baik bagi wanita. Contoh makanannya adalah pisang dan pepaya, yang pada masyarakat jawa ditabukan untuk dikonsumsi seorang gadis.

Mungkin itulah letak kearifannya. Baca juga : SEX BEHAVIOR AND SEROTONIN di SINI . //