Kolom Darwono Tuan Guru: Kartini Dan Kasus Perubahan
Hingga usia di atas 55 tahun, peringatan Hari Kartini selalu menarik buat penulis pribadi termasuk diskursus tentang jati diri RA Kartini dan silang pendapat berbagai hal tentang Kartini. Penulis tidak berpretensi menulis tentang Kartini untuk mengikuti alur kontraversi itu, namun lebih pada pemahaman penulis tentang apa yang terjadi pada RA Kartini sesuai dengan perkembangan pribadi beliau yang semakin dewasa. Sebuah daerah persawahan di Batu (Jawa Timur). Foto: ITA APULINA TARIGAN.[/caption] Habis Gelap terbitlah terang, bagi penulis lebih diartikan sebagai timbulnya pencerahan dalam diri RA Kartini sendiri. Melaui perjalanan hidupnya, kegelapan yang menyelimuti diri Kartini men. Merujuk apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tentang menilai seseseorang, “Nilailah seseorang dari teman dekatnya” maka periodisasi kehidupan Kartini dapat dibagi menjadi 2; yakni periode hidup dalam Kegelapan dan periode dalam Pencerahan (Terang), terkait dengan siapa yang mempengaruhi RA Kartini. 1. Masa Gelap Kartini[/one_fourth]
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” Sanggar Seni Sirulo di Sukamakmur (Sibolangit). Foto: MASMUR SEMBIRING.[/caption] Itulah ungkapan pencerahan yang diperoleh RA Kartini setelah mengikuti pengajian yang diberikan oleh Romo Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Saat itu, beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama.
“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.