Beranda / Kolom Darwono Tuan Guru: Kepentingan Nasional Sebuah Kolom Darwono Tuan Guru: Kepentingan Nasional Sebuah Berita terkini Kolom Pendidikan · 18 Agustus 2016 Berbicara tentang kepentingan nasional sebuah negara, tentu itu merupakan hal utama bahan pertimbangan bagi sebuah negara dalam melakukan penyelenggaraan negara bersangkutan, termasuk dalam melakukan hubungan internasionalnya. Setiap program kerjasama luar negerinya, sudah barang tentu bertujuan mendapatkan keuntungan atau sebuah investasi jangka panjang bagi kepentingan nasionalnya. Program pemberian beasiswa dari manapun, entah dari jepa ng (Mombusho), Amerika Serikat (USAID), dll. sudah barang tentu tidak lepas dari tujuan infestasi jangka panjang. Anak-anak bangsa yang potensial, jelas merupakan investasi yang sangat prospektif bagi negara asal dan negara pemberi beasiswa. Berfikir strategi tentang kepentingan nasional negara pemberi beasiswa, jelas mereka tidak mau memelihara harimau yang suatu saat melumat kepentingan nasionalnya. Oleh karena itu, menjadi sangat beralasan jika mereka melakukan "domestikasi", program penjinakan bagi para harimau, semua yang mereka biayai dengan berbagai cara, bahkan untuk negara tertentu bisa saja menghalalkan segala cara. Di dunia militer, kita dengan mudah melihat fakta bahwa jenderal-jenderal sebuah negara, lebih patuh pada mentornya di Pentagon serta dengan bengis membantai bsngsanya dan membunuh kepentingan nasionalnya. Betapa banyak pemimpin negara yang berasal dari militer didikan Pentagon hanya tampil sebagai boneka Amerika dan bahkan menjadi pelayan untuk menjamun kepentingan Amerika. Tragedi 65 yang melibatkan perwira tinggi didikan Pentagon yang di Maintainance CIA adalah fakta nyatanya. Dari sejarah kita juga bisa membaca, betapa orientasi perjuangan Indonesia merdeka sangat dipengaruhi dimana para aktivis pergerakan kemerdekaan itu menimba Ilmu. Maka kita tidak heran jika tokoh potensial seperti R.A. Kartini "diiming-imingi" beasiswa ke Negeri Belanda, tentu para feminisme yang menyarankan Kartini ke Belanda berharap dapat menjadikan Kartini sebagai kader militan. Demikian juga di bidang ekonomi, mafia Barclay diantaranya Sri Mulyani sebagai kader cemerlang JB Sunarlin Cs, telah mengubah ekonomi yang disusun berdasar azas kekeluargaan telah dirubah total menjadi ekonomi kapitalis neoliberalis, indikasi jelas dengan titk berat pertumbuhan dan nelupakan pemetaan kesejahteraan sebagai nikmatnya kue pembangunan. Ketimpangan yang sangat mencolok, kekayaan hanya berpusat pada segelintir orang adalah fakta yang tak terbantahkan sangat nyata di Indonesia. Bagaimana dengan mereka yang "dibina" oleh negara-negara Timur Tengah, yang menampilkan Islam garis keras, wahabiah, dll. yang juga kadang bikin resah? Bagi penulis mereka semuanya sama-sama mengalami "domestikasi" penjinakan kepada kepentingan negara dimana mereka menempuh pendidikan. Yang beda hanyalah jenis dan cara mengartikulasikannya di negara target yang disebut Indonesia. Jadi, kita perlu waspada, kan? Iklan