Kolom Darwono Tuan Guru: Membaca Al Quran Dengan Irama
Beberapa arahan tentang membaca Al Quran dapat disampaikan sebagai berikut :
وَرَتِّلِ الْقُرْﺁنَ تَرْتِيْلاً
“Bacalah Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya/ tartil.” (QS Al-Muzammil 4)
“Siapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, dia bukan dari golongan kita” (HR Abu Daud)
لقد اوتيت مزمارا من مزامير آل داود
سمعت النبيّ قرأ فى العشاء بالتّين والزيتون فما سمعت احدًا احسن صوتًا منه
Terkait dengan hal itu, beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam membaca Al-Qur’an yaitu :
1. Mengucapkan huruf dengan benar, baik huruf hidup/ berharokat
2. Membaca syakal dengan benar.
3. Bacaan Panjang dan Pendek dengan benar.
4. Bacaan Idzhaar, Idghoom, Iqlaab dan Ikhfaa’ dengan benar.
5. Cara Waqof dan Ibtida’ yang tepat.
Sedang terkait lagu, prinsipnya adalah melagukan semerdu mungkin agar memperkuat kesan, sehingga kita bisa memahami mengapa ada yang tergerak hatinya, menangis dan bercucuran air mata, sedih, gembira, dan terancam (basyiron wa nadziron), hingga benar-benar terobati ketika Al Quran dibacakan. Mungkin dengan irama yang seperti suara seruling kaum Nabi Dawud. Bagaimana suara seruling Kaum Nabi Daud ? Apakah seperti irama patron lagu-lagu Al Quran selama ini seperti Bayati, Jawab, Jawabul Jawab, Shaba atau Nahwan ? Ataukah seperti Irama Megatruh (sakaratul maut), Dandang Gula (kebahagiaan) ataukah Pocung (dikafani) ? kita tidak tahu persis karena memang tidak ada rekaman suaranya.
1. Guru gatra, yaiku cacahe larik/gatra saben pada (bait).
2. Guru wilangan, yaiku cacahe wanda (suku kata) saben gatra.
3. Guru lagu, yaiku tibane swara wanda pungkasan ing saben gatra.