Kolom Darwono Tuan Guru: Takiran
Budaya unggah-unggahan ini telah berlangsung turun menurun, entah kapan dimulainya. Makna unggah-unggahan sendiri adalah proses naik (munggah ), yang dimaknai agar dapat naik ke surga (munggah nang surga ). Masyarakat saling bepesan menjelang Ramadhan, agar kita dapat naik ketakwaannya (munggah takwane ) yang pada ahirnya dapat naik ke surga (munggah nang surga ) dengan jalan mengirimkan pesan melalui simbul takiran tadi. Dalam takiran unggah-unggahan itu terdapat 4 terminologi penting yakni Takir, Roa, Apem dan Pisang. Takir yang dimaknai sebagai tata pikir dan tata dzikir, syrata utamanya adalah bentuhknya tertentu dan rapih. Dimaknai bahwa dalam berfikir dan berdzikir kita harus dengan cara yang telah diajarkan (Agama) dan dengan cara yang rapih (tartib). Apalagi masyarakat telah melakukan shalat taubat pada malam nisfu Sa'ban. Pada ujud takir sendiri terkandung makna kekokohan dan kelenturan, berfikir harus berpegang pada prinsip dan paradigma yang kokoh, meski disampaikan dalam bahasa yang lentur. Bahkan dalam proses pemilihan bahan takir itu sendiri, terkandung makna kesadaran pada keunggulan spesifik. Setiap mahluk Allah SWT dibekali potensi unik, sebagaimana pisang klutuk, meski buahnya kurang diminati karena berbiji dan sepet, namun daunnya lebar, kuat dan lentur. Simbol Takir, tata fikir dan tata dzikir harus senantiasa berpegang pada azaz manfaat dan tujuan spesifik.
Aja klalen unggah-ungahane takire sing gede, roa, ana apeme karo gedange, ya? // //