Kolom Edi Sembiring: Rip Likas Beru
“Pak, bagaimana ini, Pak, kata ibu dia akan mati kalau aku pergi," Likas mengadu kepada bapaknya.
Tapi dengan tegar ayahnya berkata: “Nyawa ibumu itu Tuhan yang menentukan bukan kamu Likas."
Akhirnya Likas berangkat ke Padang Panjang. Akan tetapi Ibu Kandungnya benar benar meninggal dunia saat Likas sedang bersekolah di Padang Panjang. Ia sempat terpukul hatinya.
Hasil pendidikannya mempertemukan ia dengan Djamin Ginting. Likas menjadi guru. Hingga akhirnya mereka menikah dan Likas mendampingi suaminya. Likas terus mengabdi di daerah-daerah pengungsian. Ia menghibur dan tetap mengajari anak-anak pengungsi perang. 23 Januari 1950[/one_fourth]
Presiden RIS Ir. Soekarno dan ibu Fatmawati beserta rombongan singgah di lapangan terbang Polonia (Medan) dalam perjalanannya ke Kalkuta dan New Delhi untuk menghadiri Perayaan Proklamasi India pada tanggal 26 Januari 1950. Berdesak-desakan orang ingin menyalami Presiden dan Nyonya. Barisan pengawal dari Negara Sumatera Timur secara demonstratif berusaha agar pihak pro Republik tidak mendekati Presiden dan rombongan. Likas br Tarigan (kanan) berpakaian ala Karo dan Djamin Ginting (kiri) berpakaian ala Melayu.[/caption]
PEREMPUAN yang hampir mencapai usia 1 abad itu dengan semangat mendorong kursi rodanya di dalam Istana Negara. Rambut putih yang disanggul dan raut wajah menua tak menghalangi aura kebahagiaan yang terpancar di matanya. Likas br Tarigan (90 tahun) sangat bahagia, karena akhirnya, sang suami almarhum Letjen (purn) Djamin Ginting mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional. Anugerah itu diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada Likas. Saat menerima uluran tangan dari Presiden RI Joko Widodo setelah menganugerahi suaminya tercinta Djamin Ginting sebagai Pahlawan Nasional.[/caption] Kini perempuan yang menghentikan pesawat itu telah pergi. Tugasnya telah selesai. Membuat bangga bapaknya. Menyekolahkan adiknya. Mencerdaskan anak-anak sekolah. Berjuang di medan perang. Mendampingi suaminya mengawal negara untuk menghempang Belanda merebut perbatasan Aceh. Dan kelak dunia tahu bahwa tak semua daerah di Indonesia telah jatuh ke tangan Belanda. Indonesia masih ada, begitulah suara membahana dari Radio Rimba Raya.
Ia kini telah bertemu dengan Panglima. Pahlawan Nasional Djamin Ginting.
Selamat jalan bu Likas br Tarigan. Selamat jalan pejuang dari Taneh Karo. //