Kolom Herlina Surbakti: Revolusi Sosial Di Sumatera
Ibu saya beru Ginting, selalu bercerita kepada kami anak-anaknya tentang Zaman Revolusi, begitulah dia menamakannya. Biasanya 'story telling' ini dilakukan seperti cerita bersambung. Ayah dan ibu, biasanya menuturkan cerita mereka masing-masing, walaupun terkadang mereka menceritakan kejadian yang sama. Bapak menikahi Bibinya.
Nenek saya dari pihak bapak adalah beru Ginting anak kuta Rumah Brastagi, sedangkan keluarga ibu berasal dari Doulu. Cerita ini diceritakan berulang-ulang sampai saya SMA. Menurut cerita ibu, ayahnya bernama Toto Ginting. Kakek saya ini tidak suka berladang walaupun pada masa itu warga desa makmur dengan berladang dan sawah karena lahan masih subur.
Pada masa pemerintahan kolonial, harga hasil bumi sangat baik. Marquisa bisa membuat warga desa jadi kaya. Tapi, kakek saya memilih untuk penjual peldang (tumbuhan jenis sporazoa yang tumbuh di ketiak-ketiak pohon). Salah satu pelanggan tetapnya adalah keluarga Sultan Deli. Kakek selalu mengatakan bahwa Sultan Deli adalah kalimbubu nya. Selain itu kakek juga mempunyai pelanggan-pelanggan dari kalangan keluarga Belanda. Kedengarannya pada waktu itu orang Karo tidak pernah merasa dijajah. Bapak saya yang warga Rumah Berastagi juga menceritakan kehidupan masa kecilnya di Berastagi. Dia bekerja sebagi baby sitter untuk dua orang anak-anak Belanda di Brastagi. Otomatis orangtua kedua anak Belanda itupun mengajari Bapa tentang lingkungan hidup.