Kolom Ita Apulina Tarigan: Sinabun Mbue
Rumah Mami Tengah ini menarik. Dibangun di pinggir tebing. Dapurnya langsung berhadapan dengan Gunung Sinabung. Belakang rumah tidak berpagar. Ada lereng yang curam, dulunya adalah ladang yang kami tanami cengkeh. Setelah cengkeh hancur dimakan hama lalu berganti tanaman vanili, vanili juga berakhir, akhirnya ladang berpindah tangan ke sepupu saya sampai sekarang. Seperti orang Karo umumnya, selain jeruk dia juga menanam cabe, kadang-kadang berbagai jenis sawi. Halaman depannya langsung berbatasan dengan jalan raya utama yang menuju desa-desa di kaki Sinabung. Gunung Sinabun terlihat dari belakang rumah Mami Tengah sebelum gundul seperti sekarang.[/caption] Di seberang jalan di depan rumah, tidak persis di depan sebenarnya, di belokan turun ke arah kiri ada bukit lumayan terjal yang subur. Inilah ladang Mami. Seingat saya, dulu sebelum rumah yang sekarang, rumah mereka tepat ada di atas sana, di tengah ladang. Rasanya tinggi sekali, karena dulu aku selalu ngos-ngosan berjalan dari bawah hingga mencapai rumah. Ada tanaman tebu, jambu air, kopi, cengkeh dan sayur-sayuran. Dari rumah di atas bukit itu dulu, saya dan sepupu sering menatap bus yang datang dari arah Berastepu atau Batukarang. Kecil sekali kelihatannya seperti mobil-mobilan kayu, menyusuri jalan berkelok-berkelok di sisi Sinabung, lalu kami menebak merek busnya.
Suasana indah ini berangsur-angsur hilang ketika kami mulai beranjak dewasa, mulai bersekolah dan pergi satu per satu, entah karena menikah atau merantau. Saya tidak ingat kapan rumah di bukit itu berganti menjadi rumah di tepi jalan. Tahu-tahu, ketika cengkeh mulai berbunga, Bapak mengajak ke ladang yang curam. Saya sudah melihat Mama dan Mami di rumah yang sekarang. Ranting-ranting kering pohon jeruk dan kopi tersusun rapi di samping rumah di dekat pintu dapur. Berbaris rapi jeriken putih tempat air minum dan masak yang biasanya diambil dari kamar mandi umum. Terakhir sekali berkumpul di rumah ini 12 tahun lalu, sebulan setelah Bapak meninggal, Mama Tengah baru sembuh dari sakit setelah opname sekian lama. Sewaktu pemakaman Bapak, dia masih di rumah sakit, semua menyimpan rahasia. Hari itu, kami berkumpul semuanya dan Mama Tengah kelihatan tabah. Tiba-tiba, dia menangis keras-keras dan memeluk kami berlima. Maklum, dia merasa iba kepada Mamak dan kami berlima, apalagi kami berlima perempuan semua. Tidak mungkin menjelaskan kesetaraan gender pada Mama Tengah, walau pada prakteknya dia termasuk pejuang kesetaraan gender. Buktinya, Mamak kami satu-satunya perempuan di keluarga Biring dia dorong kuliah hingga ke Banda Aceh. Hanya saja, mungkin kekhawatiran Mama bukan di soal sekolah tetapi bagaimana kami tetap bisa menjadi keluarga yang berwibawa walau Bapak sudah tidak ada.