Kolom Ita Apulina Tarigan: Tanah Surga (erpangir Ku Lau
Kemarin dulu , sekelompok pemuda Karo memfasilitasi acara erpangir di Lau Debuk-debuk (sebuah mata air panas di kaki Gunungapi Sibayak) yang melibatkan guru (dukun Karo) dan orang-orang Karo yang masih menjalankan tradisi ini. Beberapa diantara mereka menshare foto dan menulis berita ke www.sorasirulo.com . Sayangnya, kebanyakan tanggapan terhadap tulisan dan foto-foto sangat jauh dari positif. Tanggapan mereka umumnya berdasarkan keyakinan atau agama mereka sendiri.
Anjuran Anthropolog Prof. Dr. Payung Bangun MA inilah yang melandasi perkenalan saya dengan “ranah” ini. “Ranah” yang tak dikenal tapi dikenal, tulis Pdt. Mindawaty. Begitu banyak tanggapan yang jauh dari toleransi dan semangat perbedaan, membuat saya ingin melihat ke belakang, seperti apakah pandangan missionaris mula-mula yang datang ke Karo. Apakah warisan mereka yang berupa catatan budaya pernah menjadi pertimbangan atau renungan para pemeluk agama saat ini dalam menyikapi kebudayaan asli Karo?
Tidak banyak juga orang tahu bahwa selama menjelajahi Taneh Karo, Kryut juga menulis sebuah catatan harian dalam bentuk novel. Menurut ukuran jaman itu yang ditulis Kruyt sangat tidak pantas terutama oleh gereja, dia sendiri juga menyadari sehingga dapat dimengerti mengapa dia menggunakan nama samaran Henk dalam novelnya itu. Semua foto di tulisan ini adalah karya Jebta B. Sitepu.[/caption] Novel itu nantinya diterbitkan pula oleh missionaris setelah dia, J.H. Neumann. Hingga suatu hari, seorang Amerika bernama Joe menemukan novel tua itu di sebuah toko souvenir di Kesawan (Medan) dan menghadiahkannya kepada Mary Steedly yang nantinya menjadi seorang profesor di salah satu universitas paling top di dunia, Univeritas Harvard (Obama juga tammatan dari univesitas ini). Desertasi Mary Steedly kira-kira isinya "melengkapi perjalanan Henk yang terputus itu".