Kolom Joni H. Tarigan:
Tahun 2007, saya menamatkan kuliah D3 teknik mesin, tetapi merayakan wisuda Bachelor of Engineering tahun 2008 di Vlissingen (Nederland), dengan teknologi internet dan smart phone yang masih terbatas. Tahun 2009, tepatnya 16 Juni 2009, dimana saya harus kembali ke Indonesia karena krisis global yang merambat dari Krisis USA sejak 2007. Internet dan smart phone belum banyak berubah, atau mungkin saja karena saya belum punya uang yang cukup untuk beli smart phone terbaru. Akan tetapi, seingat saya, media sosial saat itu barulah Friendster. Walaupun Facebook lahir tahun 2004, saya mulai mendaftar pada 2010. Setelah facebook barulah bermunculan aplikasi-aplikasi yang membuat dunia ini semakin borderless.
Ketikdakterbatasan itu bisa mencakup banyak hal tentang bagian dalam kehidupan manusia. Komunikasi manusia jadi tanpa batas. Selain komunikasi itu, informasi juga secara langsung jadi tanpa batas. Komunikasi dan informasi yang tanpa batas inilah yang kemudian menjadikan pertanyaan apakah masih relevan slogan “GARBAGE IN GARBAGE OUT’? Apa yang masuk itu pulalah yang keluar sebagai hasilnya. Jika kita kembali ke informasi dan komunikasi yang tanpa batas, maka jika informasi itu GOLD maka kita manusia yang menggunakannya seharusnya menghasilkan sesuatu yang positif (GOLD). Akan tetapi jika informasi yang GOLD itu kita serap dan menghasilkan yang tidak GOLD maka jadinya GOLD IN GARBAGE OUT!.