Kolom Joni H. Tarigan: Merdeka
Saya punya teman yang sudah lama tidak bertegur sapa. Banyak faktor yang membuat saya sulit melupakan teman tersebut. Pertama-taman adalah kami sama- sama berlatarbelakang Sumatera Utara. Lebih spesifik lagi, ibunya kelahiran Berastagi, yang yang dulu terkenal dengan keasrian dan desa-desa tradisional pendukungnya. Kawan saya ini Batak bermarga Nainggolan.
"Halo, pal , apa kabar? Merdeka?" Tanya saya lewat pesan singkat.
"Merdeka, pal, cuman merdeka secara perayaan sajanya terus kulihat," balas teman saya ini.
Logo itu saya terjemahkan bahwa NKRI ini lahir dari perbedaan bukan lahir dari persamaan. Perbedaan itu pun sampai pada titik kontras, seperti warna benderanya Merah dan PUTIH. Kekontrasan itu pun nyata, yakni bahasa, adat-istiadat,agama, dll. HUKUM adalah bagian dari pemersatu kekontrasan itu, dan manusianya yang mampu bergandengan tanganlah, walaupun berbeda, yang membuat Bahtera NKRI tetap berlayar. Ita Apulina Tarigan (Pimred Sora Sirulo) saat meliput di Kota Leiden (Belanda)[/caption]
"Be the change of the world we wish, " kata M. Gandhi.