Kolom Joni H. Tarigan: Panen Saat
Saat menabur benih padi, bagi kami Karo dinamakan merdang , adalah saat yang saya tunggu- tunggu saat kecil. Sanak keluarga akan berkumpul untuk melakukan persiapan penanaman padi. Tanah sebisa mungkin gembur dan rata. Ranting-tanting, bebatuan, dan gulma harus disingkirkan. Tanah yang baiklah yang mampu menumbuhkan padi. Batu dan ranting di bawah tanah akan menganggu suburnya padi.
Enam bulan kemudian, peristiwa berikutnya tidak kalah menarik. Padi yang ditabur, dirawat dari hama, burung pipit, dan juga dibersihkan dari gulma. Setelah 6 bulan merawat padi, maka tibalah saatnya panen dan pemisahan bulir padi dari tangkainya. Masa panen ini kami namai rani , dan pemisahan bulir padi dari tangkainya kami namakan ngerik . Ngerik adalah proses pemisahan padi dari tangkainya dengan cara menggulung tangkai padi dan mengujamkannya dengan telapak kaki. Rani dan ngerik ini memperlihatkan keperkasaan para kaum lelaki menggunakan kakinya, dan kaum ibu memperlihatkan kesabarannya memisahkan padi dari sampah- sampah proses pemisahan. Tenaga yang terkuras, maka inilah yang mendasari bahwa makanan yang disajikan adalah makanan yang lejat. Biasanya rendang dan gule dari ayam kampung. Makanannya inilah yang kurindukan.