Kolom Joni H. Tarigan: Pelajarilah Bahaya Supaya Mampu
“Oh, it looks like a snake fruit, but is not” saya menjawab kemudian.
Buah ini juga ternyata menjadi buah favorit bagi anak kami Rafael. Pada umumnya anak saya suka apa saja asalkan makanan. Akan tetapi, salak adalah salah satu favoritnya selain anggur dan lengkeng. Karena salak produk lokal, maka dengan mudah ditemukan di pasaran, bahkan penjual buah keliling masih mampu menjualnya dengan harga Rp. 10 ribu/ Kg, dan tentu saja rasanya sangat manis. Harga murah, rasa manis, tentu saja kesukaan Rafael terhadap salak tidak ada kendala. Kami hanya membatasi supaya tidak menimbulkan sakit perut atau gangguan perencanaan.
Akhir- akhir ini anak kami sudah mengupas dan makan salak tanpa bantuan orangtuanya. Kami pun orangtuanya, yang awalnya berbeda pendapat tentang bahaya makan salak, telah menemui titik sepakat. Titik sepakat itu adalah “justru karena kita bisa mengawasi anak, maka biarkanlah ia mempelajari bahaya dari tersayat salak dan juga kemungkinan biji tertelan. Kita harus memberikan proses pemahaman kepada anak, bukan makanan siap saji.
SEGALA MAHLUK HARUS MEMAHAMI MASLAHNYA JIKA INGIN TERHINDAR DARI MASALAH ITU