Kolom Matius Barus: Tegaskan
Saya kembali berpikir, ibarat seorang gadis yang menolak cinta seorang pemuda tapi pemudanya tetap memaksa untuk memilikinya. Aneh bukan? Seorang gadis Karo dengan perhiasan telinga dari perak (disebut padung) dan menenteng ceret bambu bertutup kyu. Kedua benda ini adalah sanga khas Karo yang tidak didapati di suku-suku tetangganya, termasuk Batak maupun Melayu.[/caption] Suku Karo sudah sangat jelas mengatakan bahwa mereka Karo Bukan Batak (KBB). Tapi, tetap saja Suku Batak mengatakan tidak. Mereka sangat ngotot mengatakan bahwa Karo adalah Sub-suku Batak. Setelah saya berpikir, mungkin, kalau orang-orang melihat keindahan Taneh Karo, Suku Batak bisa saja mengatakan "itu Tano Batak Karo". Jikalau orang melihat kecantikan putri-putri Karo, Batak bisa mengatakan itu "wanita Batak Karo ". Perang Sunggal yang sangat dahsyat, jelas-jelas perang orang Karo. Tapi, dibilang perang "Batak". Memang, itu bisa dibilang ulah Belanda juga karena mereka menyebutnya dengan "Batak Orloog" (Perang Batak) walaupun oang-orang Karo mengenangnya sebagai Perang Sunggal atau Perang Tanduk Benua.
Yang lebih parah lagi, Kota Medan pendirinya adalah orang "Batak" Karo, katanya pula. //