Kolom M.u. Ginting:
Istilah ’kolot’ itu adalah kata-kata dari Menteri Pendidikan yang menuduh ’kolot’ orang-orang yang menyuruh bakar buku-buku komunis. Mestinya orang disuruh baca, bukan suruh bakar bacaan, justru di saat orang Indonesia sungkan membaca. Ini pikiran maju seorang menteri, dan pikiran ini sudah dikuasai oleh bagian besar publik negeri ini. Tetapi ada menteri ’kolot’ juga, yang masih ’ngeri’ terhadap momok komunisme sehingga gampang dihasut. Tak lain sebabnya ialah karena ’malas baca’ sehingga tak mengikuti perubahan dan perkembangan dunia di depan mata sendiri. Itulah IGNORANCE, artinya lack of information and lack of knowledge . Informasi dan pengetahuan memang perlu ada dalam mengikuti kehidupan sehari-hari abad ini, apalagi kalau menjabat satu kementerian sebuah negara. Kemudian menteri itu ’putus asa’ sendiri. "Kalau saya mau direshuffle terserah presiden," katanya.
Sangat terpuji dan memang sangat tinggi kesannya kalau Jokowi bilang teroris tak perlu ditakuti, karena tujuannya memang menakut-nakuti. Bayangkan saja kalau Jokowi bikin ’a state of emergency ’ di Indonesia hanya karena ada orang menakut-nakuti seperti bom Thamrin. Atau kalau ada orang mabuk narkoba atau orang sakit psikis pakai truk besar mengggilas banyak orang di Senayan seperti di Nice itu, lantas dibikin ’a state of emergency ’ di seluruh Indonesia . . . wow . . . betapa dungunya!