Kolom M.u. Ginting:
Itulah salah satu keindahan negeri ini, tidak bisa dihadapi dengan politik multikulti, tetapi harus menghargai dan menghormati semua kultur dan tiap kultur dalam praktek kehidupan sehari-hari. Para pemuda Suku Karo akhir-akhir ini semakin giat menghidupkan kembali ritual-ritual tradisionalnya serta semakin menegaskan Karo Bukan Batak.[/caption]
Ketika FPI bulan Juli lalu menuntut penutupan sebuah rumah makan BPK (Babi Panggang Karo (baca beritanya di SINI ) di Deliserdang (Sumut), telah sempat memunculkan amarah keras dari Suku Karo dan suku-suku Kristen lainnya di Deliserdang (Deliserdang adalah daerah ulayat Suku Karo dan Melayu dengan berbagai ragam suku pendatang, Islam maupun Kristen, serta sudah hidup rukun dan damai sejak era Kemerdekaan).
FPI melihat persoalan hanya dari segi satu kultur atau dari segi satu agama tertentu (Islam), yang seharusnya dari segi mengakui dan menghargai semua kultur/ agama dan tiap kultur. Memanfaatkan agama atau kepercayaan agama Islam untuk menghalau suku lain atau kultur lain bukan lagi jamannya pada abad ini, walaupun masih ada juga sekarang, seperti juga disinyalir oleh seorang pemimpin spiritual terkenal di dunia. Para pemuda Suku Karo semakin menyenangi pakaian tradisionlnya[/caption] Dalai Lama, bilang: "R eligion has become an instrument to cheat people". Dan dalam soal korupsi Dalai Lama bilang: "They (some educated people) pray to God but the purpose of their prayer is to make their corrupt life more successful." Praktek ini masih ada di negeri kita dan di Deliserdang itu.