Kolom M.u. Ginting: Angka Kematian
”Ada banyak perkiraan mengenai jumlah orang yang tewas selama berbulan-bulan. Jumlah perkiraan awal sedikitnya setengah juta orang dan satu juta orang paling banyak menjadi korban. Pada bulan Desember 1965, angka yang diberikan kepada Soekarno adalah 78.000 meskipun setelah ia jatuh, hal itu direvisi menjadi 780.000. Angka 78.000 itu adalah sebuah cara untuk menyembunyikan jumlah korban tewas dari Soekarno. Spekulasi terus berlanjut sepanjang tahun, mulai dari 60.000 sampai 1.000.000. Meskipun konsensus tampaknya telah menetapkan sekitar 400.000 jiwa. Akhirnya, pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.”
Soal angka 3 000.000, kalau ini dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun atau taruklah 300 hari maka per hari harus dibinasakan 10.000 orang. Ini mendekati angka pembantaian di Rwanda ketika terjadi pembunuhan atas orang Tutsi oleh orang Hutu. Orang Hutu yang jauh lebih kecil jumlahnya dari orang Indonesia yang siap membunuh orang-orang Komunis, karena itu membantai 10.000 orang dalam satu hari tak ada soal, apalagi kalau jumlah pembunuhnya lebih dari jumlah yang mau dibunuh, tak ada soal sama sekali . . .
Siapakah yang berkepentingan mengadu domba rakyat Indonesia dan untuk apa?