Kolom M.u. Ginting: Brexit Dan Arah Perkembangan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Brexit Dan Arah Perkembangan

Kolom M.u. Ginting: Brexit Dan Arah Perkembangan

Yang skeptis terhadap Uni Eropah umumnya adalah negara-negara Eropah yang kaya. Sebalinya yang mau terus dengan Uni Eropah adalah seperti Portugis, Spanyol, Yunani, dan negara-negara miskin Eropah Barat, yang tadinya sangat banyak dapat duit dari negara bagus ekonominya seperti dari Swedia. Penduduk Swedia sangat merasakan bagaimana bantuan itu menurunkan ekonomi sehari-hari mereka dalam membantu negara-negara miskin Eropah itu.

Kemudian masuklah negara-negara Eropah Timur, yang memang miskin. Bagi kapitalis-kapitalis baru negara ex komunis ini sangat diuntungkan oleh Uni Eropah. Mereka mengembangkan kapitalnya dengan bantuan penuh dari kapitalis Barat. Di kalangan rakyat banyak masih sama saja, bedanya hanya bahwa orang-orang ini bebas masuk ke Barat untuk mengemis.

Bahwa Uni Eropah akan mengecil dan akan menuju lenyapnya, adalah kenyataan arah perubahan dan perkembangan sejarah. Gerakan nasionalis dunia dan yang sangat mengegerkan justru di Eropah, adalah arus sejarah yang luar biasa, sebanding dengan gerakan kemerdekaan negeri terjajah Asia-Afrika pada abad lalu.

Tetapi, kita akan melihat gerakan exit semakin semarak dari negara-negara Eropah Barat yang kaya itu. Kita akan melihat juga ’masa depan’ Uni Eropah yang terdiri dari mayoritas negara ex komunis Eropah Timur. Satu fenomena menarik ialah, negara-negara ini menolak pengungsi multikulti dari dunia lain terutama dari negeri Islam. Ini sangat bertentangan dengan politik multikulti komunis lama atau orang kiri lama itu. Tetapi gerakan nasionalis di negeri-negeri ini juga semakin bersemarak, walaupun sekarang masih dalam bentuk ’fasis’ kata sebagian orang, karena mereka masih dalam tingkat perkembangannya dan penyesuaiannya dengan dunia lain setelah keluar dari keterkungkungan komunis selama ini.

Eropah Barat yang masih di UE ’terpaksa’ jadi tempat penampungan multikulti sampai satu waktu rakyatnya sendiri akan muak dan menolak total multikulti itu. Tanda-tanda kemuakan ini sudah terlihat sekarang juga, tetapi di bawah kekuasaan ’kiri’ lama itu, persoalan ini selalu diantisipasi dengan semboyan-semboyan kiri lama, kemanusiaan, dsb.

Gerakan multikulti sejak semula adalah rekayasa dari gerakan kiri dunia (multikulturalisme) dan yang sekarang jadi thema utama tetapi tersembunyi dari gerakan ’global hegemony’ neolib kapital besar global. Gerakan multikulti ini bermaksud sebagai gerakan pecah belah dan adu domba mempertentangkan dengan gerakan nasionalis/ kultural yang sedang menjadi trend nasional dunia. //

Terorisme termasuk sebagai alat penting dalam strategi ini. Selain untuk menakut-nakuti penguasa dan rakyat, juga berfungsi mengadu domba, dari segi agama Islam. Dalam mencapai global hegemony itu, seorang profesor AS Chossudovsky bilang:

“The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie.”

Bahwa di Eropah Barat yang kaya itu sudah lama di bawah kendali neolib lewat kapitalnya dan lewat kekuasaan ‘kiri’ atau ‘sosial demokrat’ tak begitu terlihat oleh publik. Yang terlihat dan dirasakan ialah gerakan nasionalisnya itu, yaitu dengan munculnya partai-partai nasionalis yang semakin membesar dan umumnya sudah menjadi partai ke 3 besar.

Inilah arah pergolakan sejarah kemanusiaan atau kontradiksi kemanusiaan yang sedang semarak di seluruh dunia. Pada abad lalu gerakan ini belum begitu jadi perhatian di Eropah Barat. Dengan kemenangan Brexit kemarin itu, semakin banyak yang menyedari bahwa pergolakan ini adalah pergolakan yang ada kaitannya dengan perubahan perkembangan sejarah manusia, menggambarkan kontradiksi dan dialektika perubahan sosial kemasyarakatan. Di Eropah sebagai efek domino Brexit.

Mari ikuti gerakan besar nasional/ kultural rakyat-rakyat dunia!

Sangat menarik dan pembelajaran besar. // //