Kolom M.u. Ginting: Dana
BIN Sutiyoso bisa dimasukkan ke dalam intel terbuka dalam soal melacak aliran dana terroris, demi rakyat Indonesia dan karena bisa dapatkan pengetahuan yang jelas soal aliran dana ke terroris di Indonesia. Di sini jelas perubahan yang ada di intel Indonesia (BIN) memanfaatkan tugasnya untuk kepentingan publik. Dengan mengajak semua institusi kerjasama dalam soal ini seperti dengan Polri, tentu pekerjaan lebih ringan dan bisa berhasil dibandingkan selama ini tak pernah berhasil. Paling mantap juga ialah kalau tugas ini disertakan juga pihak militer yang belakangan terlihat lebih mantap dalam menghadapi persoalan rakyat. Contohnya membantu pengungsi Sinabung di Siosar (Dataran Tinggi Karo).
"Terroris ini selalu pakai kata sandi," kata BIN Sutiyoso.
Seorang ahli hukum internasional menguraikan pendapatnya soal saling hubungan antara terorisme dan kemajuan industri penjaga keamanan di banyak negeri. As lawyer Jonathan Turley recently argued in Al-Jazeera English , the US-led war on "terror" has created a vast industry linking American foreign policy together with multinational corporations and a growing government bureaucracy that sustains the US economy by employing millions. Turley notes that: "The core of this expanding complex is an axis of influence of corporations, lobbyists, and agencies that have created a massive, self-sustaining terror-based industry." Furthermore, the US has exported its discourse of "terror" so successfully that both allies and foes alike are now embracing the hegemonic framework, ultimately empowering this neoliberal axis of elites who financially benefit from the world being in a perpetual state of war.
Di Indonesia seperti budget besar untuk badan-badan anti terror seperti bikin Densus 88.
”Makanya ada dugaan terorisme ini sengaja dipelihara untuk memperpanjang proyek biar anggarannya jalan terus, ” kata Ketum MUI Din Syamsuddin kepada RMOL 16 okt 2012. //