Kolom M.u. Ginting: Dari Negatif Ke
Direncanakan sidang Ahok diadakan 13 Desember 2016. Sidang ini pasti akan rame pengunjung dan pemerhati, karena bukan hanya penduduk Jakarta yang sudah terbelah karenanya tetapi juga penduduk seluruh Indonesia. Jadi, sidang ini memang hebat, kalaupun bukan yang terhebat. Hakim yang akan bikin putusan juga memang harus 'hebat', karena pastilah sudah tahu apa akibat yang mengikuti kalau Ahok bebas, atau juga kalau Ahok divonis bersalah. Salah satu dari 2 golongan penduduk Indonesia yang 250 juta yang sudah terpecah jadi 2 itu, akan maju dengan keyakinan masing-masing.
Tetapi ini hanya berandai-andai . . . Sekarang nasi sudah jadi bubur . . . Apakah memang sudah tidak ada harapan yang positif dari peristiwa 'bubur' ini dan kita akan pecah dan tengkar untuk selama-lamanya? Seorang ibu petani garam di Karang Asem (Bali) sedang mengolah garam dari ladang garamnya. Foto: Ni Nyoman Murdewi.[/caption]
Pemimpin spiritual terkenal Dalai Lama pernah juga mengeluh soal dimanfaatkannya agama oleh orang-orang yang suka menipu orang banyak, beliau bilang bahwa di dunia sekarang ini "religion has become an instrument to cheat people"- dikutib dari timesofindia.indiatimes.com. Di sini Dalai Lama memakai istilah agama (religion) jadi alat atau instrument untuk menipu orang, Ahok memakai istilah 'ayat 51' yang dipakai orang tertentu juga untuk menipu orang lain supaya tidak memilih dia dalam Pilgub. Raja Ampat. [/caption]
- Terorisme, Narkoba dan Korupsi
- Trisakti
Selanjutnya Dalai Lama mengatakan: "They (some educated people) pray to God but the purpose of their prayer is to make their corrupt life more successful."
Ini juga sangat sesuai dengan kejadian di negeri kita. Orang-orang yang selalu korupsi umumnya adalah educated people atau yang punya kedudukan/ jabatan dibandingkan dengan kaum tani atau buruh pekerja biasa di Indonesia. Tujuan pray to God orang-orang ini tak lain ialah supaya lebih sukses lagi bikin korupsinya atau kehidupan korupsinya atau dengan perkataan lain mau menipu orang lain juga dengan sembahyangnya. Kesimpulan Dalai Lama ini banyak cocoknya dengan keadaan negeri kita sekarang.
Satu lagi yang juga menarik dikatakan Dalai Lama: "In western countries, secularism means being negative towards religion while in India it means respect of all religions, and India can promote religious harmony and 'ahimsa'." ( Ahimsa means 'not to injure').
Sama halnya dengan India, kita di Indonesia juga bisa menerapkan 'ahimsa', respek terhadap agama apa saja, sesama penganut agama yang berlainan. Ini memang sudah pernah menjadi tradisi negeri dan rakyat kita sejak lama, sudah ratusan tahun, sejak datangnya berbagai agama ke negeri kita dari Barat maupun dari Timur. Kita tidak pernah cekcok karena itu. Mengapa belakangan jadi cekcok karena berbeda agama?
Bisakah kita kembali ke situasi harmonis ('ahimsa') yang sudah pernah ada selama ratusan tahun itu?
Kalau kita meneliti kekacauan dan konflik berdarah di Syria dan Irak, sebagai sebab utamanya ialah teroris ISIS. Bahwa ISIS didirikan oleh Trio Obama-Clintorn-Ford juga bukan rahasia lagi. Seperti juga dikatakan oleh Trump sendiri bahwa Obama adalah the founder of ISIS. Tujuan utama pesta ISIS ini ialah Triliunan dolar dari SDA Syria dan Irak (minyak) yang masih mengalir sampai sekarang selama keamanan di kedua negeri itu belum pulih. Artinya, selama sumber minyak itu masih di tangan orang asing, bukan di tangan orang Syria atau Irak. Soal terorisme seorang profesor dari Ottawa University Chossudovsky bilang: “The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”.
Di Indonesia, menurut panglima TNI, biaya terbesar untuk membiayai terorisme di Indonesia datang dari Australia, Malaysia dan Brunei. Sedangkan usaha pecah belah di Indonesia kata panglima datang dari AS dan Australia. Kapolri dalam menghadapi Demo 212 menyatakan dengan tegas adanya usaha makar yang berlindung di balik 212. Usaha makar atau terorisme atau pecah belah punya tujuan yang sama dan dari sumber yang sama yaitu 'Panitia' Divide and Conquer internasional atau the global hegemony the New World Power menurut definisi Chossudovsky, yang juga bergerak di Syria dan Irak.
Pengetahuan umum soal terorisme dan soal Divide and Conquer ini sudah semakin meluas dan bisa jadi alat yang bagus bagi publik dunia untuk menghindari usaha pecah belah dari luar yang pada umumnya memanfaatkan kontradiksi yang ada dalam satu negeri. Pengetahuan kita dalam soal inilah yang akan banyak menunjukkan jalan dan akan membimbing sikap kita menemukan jalan penyelesaian dalam soal yang kita hadapi sekarang ini (Soal pengadilan Ahok). Selain itu, keyakinan kita yang sudah teruji dalam perjuangan kemerdekaan yaitu Panca Sila dan keutuhan NKRI.
Publik Indonesia belakangan ini sudah banyak tambah pengalaman dan juga pengetahuan, terutama sejak Peristiwa Kepulauan Seribu. Tambah pengetahuan lebih luas dan lebih mendalam dalam soal demo sebagai hak demokrasi, soal makar, soal Divide and Conquer internasional, soal terorisme, dan tak kalah pentingnya juga ialah cebiran mulut yang lebih 'ahimsa' (lebih harmonis tidak menyinggung perasaan).
Semuanya ini telah memberi pelajaran dan pengalaman yang ternyata memang sangat berguna dalam menjaga kestabilan dan hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati walaupun berbeda agama atau ras atau suku. Peristiwa Kepulauan Seribu telah dan akan bikin Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan NKRI lebih mantap dalam kehidupan nyata kita, tidak hanya sebagai teori, lambang atau semboyan semata-mata.
Karena itu, apapun hasil yang akan diputuskan oleh pengadilan 13 Desember nanti, tidak perlu lagi mengganggu kedamaian diantara kita. Walaupun semuanya memang tergantung pilihan kita, karena pilihan luar atau keinginan dari 'panitia' Divide and Conquer seperti di Syria dan Irak, sudah jelas, dan kita sudah sangat mengerti.
Inilah kemungkinan perubahan dari sesuatu yang negatif ke sesuatu yang positif. Kita banyak belajar.