Kolom M.u. Ginting: Dengan Budaya
Kalau Kabinet Jokowi disusupi oleh orang-orang neolib, seperti yang disinyalir oleh Ray Rangkuti, juga adalah gambaran nyata dari perjuangan kedua kepentingan utama itu.
"Kelompok neoliberal tidak happy dengan Jokowi-JK. Di Nawa Cita yang dikehendaki ekonomi konstitusi, anti - neo liberal. Maka tidak mungkin tradisi penyokong neoliberalisme berhadapan keras dengan rezim. Mereka melakukan penyusupan ke jantung kekuasaan," kata pengamat politik Ray Rangkuti.
Penyusupan tentu gelap, artinya diam-diam. Pertama, pendukung neoliberalisme sering mengambil keputusan diam-diam yang dianggap merugikan negara. Ke dua, proses pengambilan kebijakan yang tidak diketahui publik.
"Dalam hal ini, 3 kasus yang mencolok, seperti Freeport, kereta cepat, dan Blok Masela," ujar Ray.
Blok Masela akhirnya terbuka karena dibuka ke publik oleh Presiden Jokowi. Semula Blok Masela diam-diam akan dibuat di tengah laut (off-shore ) supaya jauh dari kontrol publik dan tidak mengikutkan perusahaan nasional dalam pembangunannya.
"Persaingan tergantung dari kecepatan mengantar orang dan barang," kata Jokowi.
Tak salah memang dan tentu bisa banyak alasan lain yang juga sangat bisa diterima.