Kolom M.u. Ginting: Fahri Hamzah
Membela Setnov berarti membela politik atau kepemimpinan neolibnya. Politik ini atau leadership neolib ini semakin payah menempatkan dirinya, karena jaman sudah jadi terbuka. Ketika jaman tertutup seperti era Orba dimana berdominasi ialah ‘rahasia dan rekayasa’, politik dan leadership neolib punya hegemoni mutlak. Jaman terbuka leadership neolib ini belum menemukan ‘bentuk baru’ untuk survive. Tetapi neolib tak akan diam, karena kalau hanya diam tak akan ada perubahan. Ini berlaku bagi semua, neolib juga. Politik pengalihan isu lewat Setnov sudah gagal total, pembelanya seperti FH juga sudah menuju satu kepastian tertentu . . . partainya sudah tak mendukung. Di mana saja berlaku aturan, partai bisa menarik kembali semua wakilnya di lembaga mana saja, karena dia bukan perwakilan per seorangan. Aturan ini mau dilawan pula oleh FH. Memang tak ada jalan lain bagi FH kalau masih mau bertahan. Apa saja harus dilawan untuk bertahan sejauh mungkin. Siapa tahu masih bisa. Menarik juga untuk jadi tontonan sampai dimana dia bisa berhasil melawan arus deras ini. Ha ha namanya saja melawan arus, extern dan intern pula. Tak gampang.
“Publik akan menilai kelayakan sudah saatnya Fahri Hamzah mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR agar politik caci maki sirna di Bumi Indonesia tercinta, agar tidak terjadi duplikasi yang dapat merusak jiwa-jiwa rakyat Indonesia melihat ulah perilaku para pemimpinnya yang duduk di elit nasional,” tulis W. Wisnu Aji di dalam kolomnya . //