Kolom M.u. Ginting: Melawan
Berita tersangka penista agama Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta tersiar luas di media luar negeri. Apa saja memang bisa jadi sorotan dunia. Tidak ada kenegatifan yang menonjol dalam hal ini. Malah ada positifnya bagi Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dan bagi Indonesia untuk lebih terkenal karena jadi diskusi dunia. Keterkenalan sangat positif bagi industri turisme, membantu ekonomi rakyat.
Silent Majority di belakang Ahok akan menentukan siapa yang akan menang dalam Pilkada ibu negeri Indonesia itu. Silent majority tidak banyak ngomong tetapi akan datang ke pemilihan secara besar-besaran kalau ada yang mereka rasa tepat untuk dipilih. Contohnya kemenangan Trump. Selama setengah abad the silent majority tidak pernah memilih, karena pilihannya sama saja, tidak ada alternatif bagi mereka. Pilihan yang ada selama ini adalah diantara pendukung the establishment R atau D. Sedangkan the establishment (R atau D) sudah tidak mengindahkan mereka. Mereka ini ialah suku orang putih AS, terdiri dari: 1. kelas buruh miskin di daerah industri 2. penduduk miskin pedesaan 3. penduduk miskin daerah pedalaman.
Tetapi, apa yang tidak diduga-duga ialah bahwa di Eropah juga ada yang namanya 'The Silent Majority'. Atau lebih tepat ialah kalau di Eropahlah pertama kali dicetuskannya Revolusi Besar Politik the Silent Majority itu, dalam revolusi besar BREXIT, dipelopori oleh pemimpin UKIP Nigel Farage. Revolusi terbesar the silent majority di luar Eropah ialah The Great Political Revolution pimpinan Donald Trump di AS. Satu ciri tersendiri dari revolusi ini ialah tidak ditandai oleh satu partai tertentu (partai-partai lama the establishment), tetapi ditandai oleh The New Emeging Forces kekuatan the silent majority dari semua partai dan terutama dari kekuatan the silent majority itu, pendudui AS yang selama ini dilupakan. Berlainan dengan Farage di Eropah membangun partai baru UKIP, Trump memanfaatkan partai lama R jadi penyangga revolusinya.
“China is eating our lunch and sucking the blood out of the U.S ,” kata Trump.
Ini berlaku bagi nation Indonesia dan nation AS.
Dari segi etno nation yang lebih kecil atau suku Erik Lane bilang dalam bukunya tentang globalisasi: