Kolom M.u. Ginting: Pilpres As, Kanan Baru, Dan
Pilpres AS (Pemilihan Presiden Amerika Serikat) kali ini sangat menarik. Bukan karena baru pertama kalinya ada perempuan yang jadi Capres (yang sebenarnya adalah hal luar biasa juga terjadi di negeri Paman Sam ini), tetapi melainkan adalah karena menggambarkan perubahan politik dunia secara luar biasa luar biasa. Pilpres ini ini menggugah multikulti dan terorisme, yang kesemuanya selama setengah abad telah terlindung di dalam tradisi politik kiri PC (Political Correctness). Pilpress kali ini juga telah menciptakan legenda politik 'silent majority' di AS dan Eropah Barat.
Di Indonesia kita bisa saksikan juga bagaimana aliran 'kanan baru' ini (politik patriotis nasionalis) pada bermunculan dalam berbagai partai selain partai nasionalis aslinya yang pernah dibangun oleh Soekarno. Terlihat misalnya dalam perkembangan sikap Partai Nasdem, Hanura dan beberapa yang lain juga sedang berkembang ke arah yang sama.
Tuntutan yang patut juga bagi pembayar pajak di AS yang membiayai persenjataan Nato.
“Americanism, not globalism, will be our credo,” telah menjadi semboyan Pilpres Trump. Credo ini sangat mendalam artinya bagi sebagian besar rakyat AS yang selama ini terkenal dengan 'silent majority' itu. Kalau dia mengutamakan Amerika daripada globalisasi, tentu tak perlu 'ngeri' kalau dia akan mengerahkan pasukannya ke daerah global. Jelas kalau yang bercita-cita bikin 'global hegemony' (Chossudovsky) itu bukan ideologi Trump. Trump sebaliknya punya ideologi nasionalisme, sama halnya dengan gerakan nasionalisme Eropah dan bagian dunia lainnya, seperti di Indonesia juga.
"The open borders movement is profoundly immoral," kata Prof. Frank Salter dari Australia.
"Pembangunan tembok ini harus dibayar oleh Mexiko," katanya blak-blakkan seperti gaya Ahok.
"Open borders" atau dimulai dari daerah 'dari pinggiran' kalau pakai istilah Presiden Jokowi, 2 arah politik besar Abad 21. Yang sangat menarik ialah, bahwa 2 politik bertentangan ini sedang semarak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia seperti kita suah lihat sendiri. Nasionalisme, ethnonasionalisme atau kesukuan atau sebagai dasar perjuangan keadilan ke dalam dan keluar, tercurah juga dalam gerakan ethnic-revival atau cultural-revival seluruh dunia yang bikin perang etnis dan yang telah mengorbankan jutaan jiwa manusia. Tetapi, bagusnya sekarang ialah bahwa gerakan ini meluas tanpa perang, tanpa sengketa berdarah, karena sudah menjadi agenda perpolitikan di atas meja bagi semua yang berkepentingan. Alam perubahan dunia dalam transparansi dan keterlibatan publik dalam segala soal sepertinya telah berhasil menghilangkan sisi berdarah dari pertentangan ini.
Mengapa bisa begitu? Karena Inggris punya basis jelas yaitu nation Inggris, dan punya kebebasan sendiri untuk melakukannya, tanpa ikatan aturan dari UE. Ini sesuai juga dengan yang pernah dikatakan oleh Anthony DK dalam bukunya c ulture, Globalization and the World System ( 1991). Dia bilang: ” To be English is to know yourself in relation to the French, and the hot-blooded Mediterraneans, and the passionate, traumatized Russian soul”.
Gerakan ini dimulai 'dari pinggiran' kalau pakai istilah presiden Jokowi.