Kolom M.u. Ginting: Sumber — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Sumber

Seperti biasanya, soal yang menyangkut duit/ korupsi selalu akan sangat komplikasi. Sangat rumit karena selalu ada yang merumitkan sesuai dengan kebutuhan terhadap duit ditambah lagi dengan kepentingan politik. Untung duit sebanyak mungkin atau untung politik sebanyak mungkin! Itu yang bikin ’rame’ kontradiksinya.

Tetapi, seramai apapun, asalkan jangan berhenti di tengah jalan, kejernihan akan muncul juga, karena satu hal yang sudah pasti ialah bahwa kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Dari sinilah nanti akan muncul pengetahuan baru dan kejernihan baru semua soal yang rumit tadi.

Harga pasar lahan di Tomang Utara daerah sumber waras rata-rata ketika itu antara Rp 6-7 juta/ m2. DKI belinya dengan harga Rp 20,7 juta/ m2. Bedanya jauh memang, bisa ada mark up! Tetapi, direktur Sumber Waras bilang, harga itu sesuai dengan NJOP (nilai jual objek pajak) ketika itu, yang dibuat oleh kantor pajak setempat sesuai PBB. Lucunya, kalau bisa dibilang lucu, ialah bahwa kantor pajak setempat bisa mengubah NJOP PBB itu.

Menurut pertimbangan aktual di tempat itu, termasuk harga tanah yang tidak sesuai dengan harga pasar di daerah Toang Utara, daerah Sumber Waras. DKI beli harga yang sesuai dengan pembayaran pajak Sumber Waras ketika itu. Itu pulalah yang dipertahankan oleh direktur Sumber Waras. Uangnya dibayar lewat rekening DKI ke Rekening Sumber Waras, sudah lunas.

Kejujuran memang satu-satunya yang bikin persoalan jadi sederhana. Tetapi kejujuran tak ada kalau soalnya duit dan kekuasaan. Greed and Power berlaku di sini he he he . . . Kok bisa tak ada kejujuran di dunia ini dalam soal itu, ya? // //