Kolom M.u. Ginting: Ungkap Neoliberalisme (2)
Di banyak negeri sudah terlihat gejala ini, terutama pasti akan bisa disaksikan segera dalam waktu yang tidak perlu berlarut terlalu panjang seperti di Argentina, yang juga telah menjadi pembuka tema neoliberalisme dalam diskusi di milis Karo. Presiden baru Argentina Mauricio Macri seorang neoliberal menjanjikan ’new era’ kepada rakyat Argentina ketika berpidato di Davos baru-baru ini. Apa yang dia maksudkan dengan ’new era’ pastilah neoliberalisme, ' as an alternative to the rampant nationalism of Cristina Kirchner , the former president’. Di sini, jelas antara nasionalisme (kiri klasik) presiden lama Argentina kontra neoliberalisme presiden baru Macri.
Suasana ‘ the colonization of the North’, artinya di negeri maju Eropah atau Amerika Utara dan di Selatan seperti Indonesia memang sudah lama berakar neoliberalisme ini, sejak era Soeharto. Di situ juga dimulai masuknya perusahaan neolib pertama yaitu Freeport di Papua.
Selama setengah abad lebih neoliberalisme mendominasi Indonesia, walaupun banyak perubahan terjadi di dalam neoliberalisme itu sendiri dan di dalam pemerintahan Indonesia sendiri. Apa yang masih harus dicatat sebagai syarat menguntungkan bagi ’nasionalisme’ Indonesia ialah rasa solidaritas nasionalnya itu sangat kukuh akarnya di dalam sanubari rakyat Indonesia. Neoliberalisme berkebalikan dengan ’rasa nasionalisme’ ini, dan itu akan selalu menjadi jaminan yang menyusahkan neoliberalisme berakar di negeri ini.