Kolom M.u. Ginting: Waspadai Demo 4
Dalam video terkait surat Al Maidah ayat 51, Ahok mengatakan ketika bertemu warga di Pulau Seribu: "... Kan bisa saja dalam hati kecil, bapak, ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) dengan surat Al Maidah (ayat) 51 macam-macam itu. Itu hak bapak, ibu." Isi surat Al-Maidah menyebutkan: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)."
Penjelasan dan permintaan maaf Ahok kelihatannya tak banyak mengubah maksud demo menentang Ahok yang akan diselenggarakan oleh berbagai organisasi Islam terutama FPI. Berlainan dengan negeri maju/ Barat dimana permintaan maaf sangat dihargai tinggi dan diterima dengan jujur. Apakah kultur kita lebih primitif sehingga tidak bisa menerima permintaan maaf? Atau ada latar belakang lain?
Lengkapnya bisa dilihat di sini: Divide and Conquer: The Anglo-American Imperial Project
Pengalaman pecah belah Irak ini masih terjadi terakhir dengan dilahirkannya ISIS dalam rangka merampok dan mengeruk triliunan dollar dari minyak Irak dan Siria. Di Indonesia kita punya pengalaman 'divide and conquer' ini tahun 1965, dimana 3 juta dibantai oleh orang kita sendiri, bukan dari luar, dan . . . sim sallabim. . . emas Papua dikuasai setengah abad tanpa bayar apa-apa kepada rakyat negeri ini. Urusan emas dan urusan minyak betul-betul hanya diketahui pusat, daerah tak tahu menahu sama sekali. Terakhir mau digugat soal kontrak Freeport malah dibikin teror Thamrin untuk menakut-nakuti serta membungkam pemerintah dan rakyat RI. Mulai dari situ malah Jokowi bilang kalau teroris tak perlu ditakuti karena tujuan mereka memang menakut-nakuti. Teror Thamrin pun digasak habisan, dan tak muncul lagi (untuk sementara, atau untuk selama-lamanya, mengingat perubahan kesadaran dunia yang begitu cepat).
Pertinggi kewaspadaan dan pertinggi pengetahuan soal politik 'divide and conquer' internasional.