Kolom S. Sembiring: Angin Surga [wakil]
Dalam sebuah percakapan, kepala desa dengan ketua kelompok tani yang mengelola pembibitan tampak begitu sibuk dan agak “gagap” menyambut sang bupati. Mereka membicarakan konsumsi, spanduk, makanan ringan berupa jagung dan ubi rebus, juga tari – tarian penyambutan. Ketika di warung kopi, yang juga satu-satunya warung kopi di desa tersebut, juga membicarakan hal yang sama. Mereka tidak paham apa yang akan diucapkan, apa yang akan dibicarakan dan apa yang harus dilakukan. Ya, begitulah antusiasme warga yang dapat digambarkan secara singkat.
Ini saya lihat sebagai cambuk keras bagi pemerintahan di daerah kita. Semakin canggung atau cemas bertemu dengan seseorang itu artinya jarak (hubungan sosial dan emosional) antar orang tersebut adalah jauh. Mundur sekitar 3 atau 4 bulan lalu, wakil Bupati Karo juga mengunjungi Desa Serdang (Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo). Kejadiannya mirip dengan apa yang dilakukan Bupati Deliserdang hari ini karena ada yang “seksi”. Desa Serdang merupakan demonstrasi plotting (demplot) pertanian lahan basah untuk pengembangan vairetas padi dataran tinggi. Tidak main – main, sponsor dari demplot ini adalah bantuan dari pemerintah/ LSM Jerman. Tentunya demplot penangkaran padi ini berhasil, dan karena ini juga yang membuat wakil bupati bersedia mengunjungi desa paling Timur di Kabupaten Karo ini untuk melakukan panen padi.