Kolom Sada Arih Sinulingga: Desain Kolonial Kesukuan Di Sumatera
Lucunya, antara Batak dan Karo didatangkan zending yang berbeda. Satu Lutheran satu Kalvinis, memang sengaja didesain semua. Tujuannya, agar terkotak-kotak. Saya juga telah mendapatkan bocoran cerita, jika ternyata telah masuk Kristen aliran Kharismatik di Taneh Karo pada masa penjajahan di Kampung Lepar Samura. Bagian dalam (inerior) dari bangun gereja yang pertama di Karo yang pada masa itu (akhir 1800an dan awal 1900an) masih bernama Karo Kerk (Gereja Karo) sebelum dibentuk Gereja batak Karo Protestan (GBKP di Tahun 1941 atas pengaruh HKBP. Foto: ANTHONY DEPARI.[/caption] Selain itu, diarahkannya orang-orang Batak ke Taneh Karo juga merupakan taktik mereka untuk melunakkan orang Karo. Kita harus tahu jika perlawanan rakyat Karo itu sungguh luar biasa. Dari Sunggal hingga Kutalimbaru bahu membahu dengan Nabung Surbakti (Perang Sunggal dan Tanduk Benua) kemudian ke Dataran Tinggi Karo. Jadi, wajarlah orang Karo ini memang luarbiasa pecahnya, karena memang menjadi sasaran penjajahan.