Kolom Sada Arih Sinulingga: Takal Lau (kepala Banjir Sungai
Untuk sekedar menambah wawasan bagi kam yang suka dan sering berekreasi atau melakukan kunjungan wisata ke aliran sungai seperti pemandian alam dan air terjun. Pengalaman saya yang pernah tinggal di pinggir aliran sungai Lau Belawan yang hulunya sama dengan aliran Air Terjun Dua Warna, yakni di kampung Gunung Merlawan, Namo Tumpa, Nagaraya, Namo Mirik (Kecamatan Kutalimbaru Kabupaen Deliserdang), kami sudah terbiasa menghadapi sungai-sungai banjir dan melihat sungai meluap. Cara untuk melihat banjir di sungai diajarkan secara turun temurun adalah takal lau . Disebut takal lau karena, ketika sungai banjir, biasanya diawali oleh kedatangan air yang sangat besar membawa potongan-potongan kayu-kayu, batu-batu, ranting-ranting daun dan serta sampah. Takal lau ini sangat kuat menghanyutkan, memiliki tenaga besar, bahkan mematikan karena kayu-kayu atau batu-batuan akan menghantam siapa saja yang ada di sungai. Seekor kerbau yang sedang dimandikan di sungai dalam keadaan terikat sudah biasa jadi korban karena tiba-tiba munculnya takal lau .
Ada beberapa kemungkinan terjadinya takal lau , yaitu :
Oleh karena itu perhatikan tanda-tanda berikut: