Kolom Sada Arih Sinulingga: Tarombo Batak Bagai Bisnis
Perhatikanlah sebuah pohon. Setiap batangnya semakin besar, makin meluas rindang pula di atasnya dan makin besar cabang-cabang, dan ranting-rantingnya. Maka yang makin besar tetap ada pada batangnya. Bandingkan dengan Tarombo Siraja Batak. Jelas kelihatan Siraja Batak menjadi pusat tunggal (top). Kemudian membawahi beberapa orang selanjutnya yang bawahan membentuk cabang-cabang dan ranting-ranting marga. Entah dari bagian mana yang ia rasa cocok dimasukkannya pula beberapa marga yang ada pada suku Karo, Simalungun, Pakpak, dan Mandailing.
Tapi kenyataannya, Siraja Batak adalah Orang Toba. Maka yang makin besar adalah salah satu diantaranya, yaitu Batak Toba. Ketika dengan yang lain disebutnya sama-sama sub Batak, tapi di kalangan internal mereka menyebut diri sebagai Suku bahkan sebagai Bangso Batak. Lalu kita ini, sub-sub lainnya dijadikan koloni karena Batak Toba sesungguhnya pemilik saham terbesar (mendominasi secara mutlak) dalam pohon Tarombo Batak. Karena Siraja Batak itu adalah berasal dari Toba sehingga apa pun yang diperbuat si Karo, si Pakpak, si Simalungun dan si Mandaling masuk ke Batak hasilnya. Sedangkan prestasi orang Batak yang menonjol, suku Karo tidak mendapat dapat apa-apa karena orang-orng di luar sana kenal suku Karo, yang dikenal cuma Suku Batak. Sekali lagi, Siraja Batak itu berasal dari Toba sehingga Batak adalah Toba karena Toba dan Batak objeknya satu.