Kolom Salmen S. Kembaren: Paradigma Relokasi Sinabung Perlu
Peristiwa Lingga Berdarah tentunya menyita perhatian masyarakat Indonesia. Satu sisi berita tersebut dapat menjadi citra buruk kita yang menganggap masyarakat Karo sendiri tidak terima dengan saudaranya korban Sinabung. Juga citra kesukuan yang ternyata beringas dan keluar dari etika “mehamat”, “runggu” dan nilai – nilai kultural Karo lainnya. Sisi lainnya adalah bahwa ada permasalahan besar dan mendasar dalam relokasi.
Relokasi korban erupsi Sinabung mengadopsi paradigma pertama yakni menjauhkan masyarakat dari bencana. Dalam paradigma ini juga mengandung banyak unsur yang penting diperhatikan yakni faktor kecepatan, lokasi, sumber daya, infrastruktur, ekologi dan sebagainya. Namun, yang sering luput dari perhatian atau sengaja diabaikan adalah faktor kesejarahan sosial dan budaya masyarakat. Baik masyarakat korban atau yang akan direlokasi maupun masyarakat sekitar daerah relokasi. Pengungsi tetaplah Pengungsi.... Sabar Nini Karo..... Ingani lebe Saponta ena... Pangani lebe Jadup ena.... Lit nge pagi Malemna...!!!! (Foto & Teks: JHON ROCKY)[/caption]
Relokasi masyarakat Desa Gurukinayan berbeda dengan masyarakat Bekerah, Kuta Rayat dan Simacem (Bekasi). Masyarakat ketiga desa terakhir tersebut diberi hunian dan lahan pertanian dengan mengkonversi hutan produksi Siosar. Sedang masyarakat Gurukinayan yang ribuan rumah tangga hanya diberikan hunian semata. Apakah ini bentuk diskriminasi atau karena pertimbangan lahan Desa Gurukinayan yang sebagian tidak dalam zona bahaya Sinabung. Seharusnya tidak ada perlakuan yang berbeda dari pemerintah atas situasi korban yang sama. 2 pengungsi membaca surat kiriman. Lit nge pagi malemna nande (Foto: JHON ROCKY)[/caption] Memindahkan masyarakat berarti memindahkan budayanya juga. Pemerintah pusat mungkin mengira masyarakat Karo itu memiliki satu kesatuan budaya saja. Dan hal ini memang seharusnya menjadi pekerjaan Pemda yang lebih mengetahui kultural masyarakatnya. Memindahkan ribuan jiwa ke Desa Lingga berarti ikut memindahkan karakter, kepentingan politis, struktur sosial dan bahkan tulang belulang nenek moyang masyarakat Desa Gurukinayan. Benturan karakter, kepentingan sosial politis, persaingan ekonomi berujung pada dua hal yakni konflik atau kerjasama. Pada kenyataannya yang terjadi adalah konflik karena struktur sosial masyarakat Desa Lingga dengan Desa Gurukinayan adalah berbeda. //