Kolom Telah Purba: Mahalnya Harga Sebuah Istilah 'aksi
Sepanjang jalan kami temukan iring-iringan orang berjalan kaki dan naik kendaraan yang hampir semuanya menunjukkan ciri khas, yakni seperti orang mau ke mesjid.
Perjalanan padat kami lalui dengan nyelap nyelip. Setelah lewat Grogol ke arah Gajahmada via Roxy, mulailah ketemu dengan macet yang sebenarnya. Dengan tehnik "cari jalan tikus" akhirnya sampailah ke titik yang dimaksud. Namun, karena tujuan saya bukan ikut-ikutan acara yang dibuat-buat itu, saya sempatkan berkeliling seputar Lapangan Monas untuk meninjau situas.
Melihat Jl. Hayamwuruk di dekat Sekneg sudah dipasangi barikade kawat dan beton, tak mungkin melewati jalan ini ke Monas. Akhirnya belok ke kiri yakni Jl. Juanda. Terlihatlah sudah antrian bus.
Jika dilihat dari plat nomor dan tulisan yang ada, pastilah rombongan tersebut berasal dari Lampung. Ada puluhan bus. Wilayah seberang Pasar Baru, Istiqlal, Lapangan Banteng, Kantor Pos Besar, Gambir, RS Gatot Subroto, Kramat, dan Tugu Tani. Di mana-mana penuh bus parkir bahkan ada yang berlapis 3. Hmmm .... luar biasa hebatnya. Dari soal jumlah bus ,jika ditotal semuanya bisa-bisa lebih 1000 (seribuan) bus dipakai untuk angkut rombongan itu. Di lapangan kita juga sempat melihat pembagian air mineral gratis yang sangat banyak dan berlimpah plus buah appel.
Ada lagi "Baru selesai briefing di CIKE, pernyataan resmi menyusul sesuai perintah babe".
4. Aksi ini bertujuan satu saja, yakni bagaimana agar Ahok tak boleh ikut Pilkada dan gagal.
5. Jika Ahok gagal maju, siapakah Cagub yang paling beruntung?