Kolom W. Wisnu Aji: Menguji Logika Elit Vs Logika
Kalau kita coba mengevaluasi rentetan prosesi Pilkada, hingar bingar jelang penetapan calon, selalu terjadi pergumulan dialektika untuk memutuskan kriteria calon. Kadangkala para elit saling bersinggungan dan berargumen mencari figur yang pas untuk ditetapkan sebagai pasangan calon. Bahkan seolah-olah ingin menjustifikasi suara rakyat membuat para elit punya wewenang memutuskan pasangan calon yang menguntungkan partainya.
Strategi komunikasi dirancang untuk membangun gerbong koalisi, tempat bersatunya para elit menetapkan pasangan calon. Bahkan barter kepentingan pun diumbar dalam komunikasi antar elit untuk menentukan gerbong koalisinya, seolah ingin menyuarakan aspirasi rakyat ternyata para elit dalam menghitung matrikulasinya lebih condong pada upaya mempertahankan gerbong koalisinya.
Kadangkala bangunan komunikasi antar elit dalam meramu puzzle kepentingan dan pasangan calon cenderung kontradiksi dengan aspirasi kebutuhan rakyat yang sesungguhnya. Kadangkala logika rakyat hanya dijadikan variabel pendukung dalam merumuskan pasangan calon. Para elit lebih cenderung mengolah pisau analisisnya yang cocok dengan basis kepentingannya dan orientasi mendapatkan pundi-pundi uang demi eksistensi kekuasaannya.
Fenomena tersebut sangat nampak nyata di Pilkada DKI ketika 3 pasangan calon ditetapkan dan dideklarasikan ke publik. Bangunan kepentingan lebih kental terasa dibanding menyinkronkan kebutuhan logika rakyat.
Pertarungan antar elit hanya ingin meramu kekuasaan sebagai basis bertahan dan bahkan figur yang ditampilkan hanya untuk tujuan eksistensi partainya dibanding eksistensi kesejahteraan rakyat.
# SalamPencerahan
Jakarta, 26 September 2016
Hormat kami CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGRESIF MOVEMENT (CS REFORM)