Kolom W. Wisnu Aji: Menjawab Kajian 'tanpa Mikir' Fpi
Setelah Kapolri merespon tuntutan demo untuk bikin proses hukum Ahok secara cepat, tegas dan transparan dipenuhi (dimana Kapolri dalam konferensi persnya siap melakukan gelar perkara terbuka dengan ditonton semua pihak) mulai diapresiasi. Bahkan Kapolri melontarkan pemantik wacana dimana ada pemenggalan kata "pakai " yang bikin video pidato Ahok jadi heboh.
Lalu apa yang salah dari KAJIAN "TANPA MIKIR" FPI tersebut dalam memaknai pidato Ahok?
Dalam kajian "tanpa mikir" FPI lupa bahwa ada redaksional yang mampu melokalisir konteks orang yang berbohong pake ayat tsb yaitu redaksional "KAN BISA SAJA BAPAK IBU DALAM HATI KECIL NGGAK PILIH SAYA YA KAN?" Redaksional "NGGAK PILIH SAYA" inilah yang mampu melokalisir makna meluas dari bahasa "ORANG" yang menyampaikan ayat tersebut yang berbohong sehingga bisa dimaknai bahwa orang yang menyampaikan ayat tersebut adalah konteksnya khusus Pilkada DKI ditegaskan dari kata "PILIH SAYA". Jadi, orang yang menyampaikan ayat tersebut berbohong bukan diartikan meluas dari jaman nabi hingga pengguna ayat tersebut termasuk ulama. Tapi melainkan, orang yang menyampaikan ayat tersebut sebagaimana diperjelas oleh Ahok dengan orang-orang yang berkepentingan dengan Pilkada DKI, yaitu mereka yang memanfaatkan ayat Al Maidah 51 untuk menghasut warga Jakarta agar tidak memilih Ahok.
# SalamPencerahan
Baca .... pahami ... sebarkan
Dipublikasikan oleh CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESIF MOVEMENT (CS REFORM)